Jumat, September 7
Olah Raga-Olah Nafas-Olah Batin
Minggu, Oktober 30
Sempat memiliki
Mengapa Kita Bertemu
Bila Akhirnya Dipisahkan
Mengapa Kita Berjumpa
Tapi Akhirnya Di Jauhkan
Kau Bilang Hatimu Aku
Nyatanya Bukan Untuk Aku
Bintang Di Langit Nan Indah
Dimanakah Cinta Yg Dulu
Masihkah Aku Disana
Di Relung Hati Dan Mimpimu
Andaikan Engkau Disini
Andaikan Tetap Denganku
Aku Hancur Ku Terluka
Namun Engkaulah Nafasku
Kau Cintaku Meski Aku
Bukan Di Benakmu Lagi
Dan Kuberuntung
Sempat Memilikimu...
Engkau Mengatakan
Merindukan Diriku Lagi
Ingin Ku Sampaikan
Ku Tak Hanya Sekedar Itu...
Kamis, Oktober 13
Jenuh Tuhanku....
Tuhan, aku jenuh. bukan karena tidak mensyukuri nikmatmu yang luarbiasa ini. sama sekali bukan.
tetapi, rutinitas dan rutinitas ini semakin kujalani, semakin hatiku menuntut untuk ingin lari sejenak.
tidak, aku tidak akan melarikan diri untuk saat ini. karena aku akan belajar kuat, bukan menjadi pecundang
Tuhan, berikanlah kelonggaran fikiran untuk berhenti sejenak. karena aku masih manusia yang sangat terbatas.
sistem ini membuat aku tidak punya waktu untuk diriku sendiri, untuk hidupku.
benar, memang mengajarkan ku untuk peduli kepada oranglain tanpa melihat label yang melekat padanya.
tapi, Tuhan. bukankah aku punya tubuh dan jiwa yang punya porsi untuk”tidak kuabaikan”?
Tuhan..jika aku terlalu lemah,berikan kekuatan untuk ku..
Tuhan,bukan aku menghujatmu mengatakan kau tidak ada..tapi hati ku yang hilang,perasaan ku yang kosong..
tak bisa menemukanmu..
Tuhan,aku lelah untuk menyalahkan siapapun,dan juga engkau..
Karena aku akan salah jika melakukan itu.
Tuhan,tunjukkan aku arti normal dalam setiap tingkah ku..
Arti normal untuk hidupku..
Tuhan, aku berharap ini bukan suatu keluhan. sebagai kata2 yang tidak pantas diucapkan oleh umatmu, bernegosiasi
denganmu tentang hidup.
Tuhan, aku memang jenuh. aku jenuh untuk terus tertawa dengan menahan tangisan.
Aku jenuh untuk merasakan keramain dalam kehilangan jiwa ku.
tapi ringankanlah bibirku untuk selalu tersenyum dan menutupi itu semua
Kamis, September 29
Bila Tak bersama Lagi
Jika Suatu Ketika Kita Tak Bersama Lagi
Aku ingin kau mengenang
segala kisah tentang kita
yang telah terpahat rapi di rangka langit
bersama segenap noktah-noktah peristiwa
juga canda dan pertengkaran-pertengkaran kecil
yang mewarnai seluruh perjalanan kita
Dalam Lengang, Tanpa Kata
Jika Suatu Ketika Kita Tak Bersama Lagi
Aku ingin kau tetap menyimpan
setiap denyut nadi yang berdetak
dan degup cepat debar jantung
saat mataku memaku matamu
disela derai gerimis menyapu beranda
kala kita pertama bertemu di temaram senja
Dalam Sepi, Tanpa Suara
Jika Suatu Ketika Kita Tak Bersama Lagi
Aku ingin kita meletakkan segala perih itu
disini, pada titik dimana kita akan berbalik
dan menyimpan senyum dibelakang punggung masing-masing
lalu membiarkan waktu menggelindingkannya
hingga batas cakrawala
bersama sesak rindu tertahan didada
Dalam Diam, Tanpa Airmata
Jika Suatu Ketika Kita Tak Bersama Lagi
Aku ingin cinta itu tetap tersimpan rapi
pada larik bianglala, pada hujan, pada deru kereta,
pada embun di rerumputan, pada pucuk pepohonan
sembari memetik mimpi yang telah kita sematkan disana
lalu mendekapnya perlahan
Dalam Sunyi, Tanpa Cahaya
Jika Suatu Ketika Kita Tak Bersama Lagi
Aku ingin kita akan tetap saling menyapa
lalu merajut angan kembali
seraya meniti ulang segala jejak yang sudah kita tinggalkan
lantas menyadari bahwa menjadi tua adalah niscaya
dan untuk itu kita tak perlu ambil peduli
karena kita tahu
Dalam Lengang, Tanpa Kata
Dalam Sepi, Tanpa Suara
Dalam Diam, Tanpa Airmata
Dalam Sunyi, Tanpa Cahaya
Ada Bahagia
Untuk Kita
Hanya Kita…
Perlahan aku menutup lubang itu dengan tanah basah. Tak ada airmata mengalir.
Aku lalu melangkah ringan kedepan. Hidup ini, memang terlalu indah untuk dinikmati..
Jumat, September 2
Diantara takdir dan ikhtiar
Sekeras tekad siti Hajar yang tak pernah pudar
Meski disengat matahar padang pasir yang membakar,
tidak diam dan tidak menyerah
Ibunda Ismail itupun bergerak, berjalan dan berlari
dengan keyakinan dan do'a
antara bukit Sofa dan bukit Marwah
Dicarinya air sumber kehidupan
pelepas dahaga bagi buah hati tercinta
namun hidup bukan hanya perjuangan dan kerja keras
ia adalah sebuah takdir jua
ia adalah kenyataan yang harus diterima dan
dijalani dengan ketegaran
Setegar Ismail yang merelakan pengorbanan diri
demi ketaatan kepada Sang Pencipta
Begitulah manusia
Hidup di antara takdir dan ikhtiar
Menabur Angin Busuk
Belakangan, perempuan itu mengetahui bahwa berita yang disebarkannya ternyata tidak benar.
Dia menyesal dan kemudian mendatangi seorang yang bijak untuk mencari tahu apa yang dapat dilakukan guna memperbaiki kesalahannya itu.
“pergilah ke pasar” kata sang orang tua bijak.
“dan belilah seekor ayam, sembelihlah, kemudian dalam perjalanan pulang cabuti bulunya dan buang satu persatu di sepanjang jalan”.
Meskipun merasa sangat heran, si perempuan melakukan apa yang disarankan kepadanya. Namun, ia merasa masih belum bisa memperbaiki kesalahannya.
Keesokan harinya, ia kembali mengunjungi orangtua bijak dan menanyakan persoalannya kembali.
Orangtua bijak berkata : “sekarang pergilah kembali dan kumpulkan semua bulu yang kau buang kemarin dan bawa kembali kepadaku”.
Si perempuan itu pun menyusuri jalan yang sama dan berusaha mengumpulkan bulu-bulu ayam yang kemarin telah dicabuti dan dibuangnya. Namun angin telah menerbangkan bulu-bulu itu hingga mustahil ia bisa mengumpulkannya lagi.
Setelah mencari-cari selama seharian, ia kembali ke tempat sang orangtua bijak dengan membawa tiga potong bulu ayam saja.
“lihatlah” kata sang orangtua bijak, “sangat mudah mencabuti bulu ayam dan melemparkannya. Begitu pula tidak sulit untuk menyebarkan berita bohong, namun sekali terlempar, kamu tidak akan pernah bisa memperbaiki kesalahanmu secara utuh”.
Orang bijak ini rupanya hendak mengajarkan pada kita semua firman Alloh dalam Al-Qur’an : “hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan oranglain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertawakalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”
Sengatan atau madu
Seorang Pawang Lebah tersenyum ketika bertemu sarang lebah
terbayang madu yang akan diperolehnya.
Namun...
Bagi orang biasa bertemu sarang lebah menimbulkan rasa was-was dan takut
terbayang sengatan lebah yang menyakitinya.
Bertemu dengan Musibah bagaikan bertemu dengan Sarang Lebah
Bagi pawang musibah, dia akan tersenyum bila bertemu musibah
karena terbayang hikmah yang akan diperolehnya
Sedangkan bagi orang biasa bertemu dengan musibah
menimbulkan rasa cemas, gelisah dan takutnya
karnea terbayang kesusahan yang akan menimpanya
BAGAIMANA dengan diri kita ketika bertemu sarang lebah,
dapat sengatannya atau madunya?
Yang Kita Sia-Siakan...........
Sia-sia karena tak ada tujuan yang jelas.
Pengetahuan yang kita miliki,
Sia-sia karena tak diamalkan.
Pengorbanan yang kita lakukan,
Sia-sia karena mengharap pujian.
Marah yang kita lampiaskan,
Sia-sia karena dilandasi emosi bukan rasio.
Cinta yang kita berikan,
Sia-sia karena dilandasi syahwat semata.
Kekayaan yang kita dapatkan,
Sia-sia karena hanya untuk kepentingan pribadi.
Kegagalan yang kita alami,
Sia-sia karena dijadikan alasan keputus-asaan.
Musibah yang kita jumpai,
Sia-sia karena tidak menjadikan kita semakin kuat.
Kesuksesan yang kita raih,
Sia-sia karena memuat kita semakin sombong.
Anugrah yang kita dapatkan,
Sia-sia karena tidak disyukuri.
Ketika Alloh berkata tidak...
Ya Allah ambillah kesombonganku dariku
Allah berkata, “Tidak. Bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkannya.”
Ya Allah sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat
Allah berkata, “Tidak. Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara.”
Ya Allah beri aku kesabaran
Allah berkata, “Tidak. Kesabaran didapat dari ketabahan dalam menghadapi cobaan; tidak diberikan, kau harus meraihnya sendiri.”
Ya Allah beri aku kebahagiaan
Allah berkata, “Tidak. Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri untuk menghargai keberkahan itu.”
Ya Allah jauhkan aku dari kesusahan
Allah berkata, “Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu pada Ku.”
Ya Allah beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat
Allah berkata, “Tidak. Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati segala hal.”
Ya Allah bantu aku MENCINTAI orang lain, sebesar cintaMu padaku
Allah berkata… “Akhirnya kau mengerti !”
Kadang kala kita berpikir bahwa Allah tidak adil, kita telah susah payah memanjatkan doa, meminta dan berusaha, pagi-siang-malam, tapi tak ada hasilnya. Kita mengharapkan diberi pekerjaan, puluhan-bahkan ratusan lamaran telah kita kirimkan tak ada jawaban sama sekali — orang lain dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan. Kita sudah bekerja keras dalam pekerjaan mengharapkan jabatan, tapi justru orang lain yang mendapatkannya-tanpa susah payah.
Kita mengharapkan diberi pasangan hidup yang baik dan sesuai, berakhir dengan penolakkan dan kegagalan, orang lain dengan mudah berganti pasangan. Kita menginginkan harta yang berkecukupan, namun kebutuhanlah yang terus meningkat.
Coba kita bayangkan diri kita seperti anak kecil yang sedang demam dan pilek, lalu kita melihat tukang es. Kita yang sedang panas badannya merasa haus dan merasa dengan minum es dapat mengobati rasa demam (maklum anak kecil). Lalu kita meminta pada orang tua kita (seperti kita berdoa memohon pada Allah) dan merengek agar dibelikan es. Orangtua kita tentu lebih tahu kalau es dapat memperparah penyakit kita. Tentu dengan segala dalih kita tidak dibelikan es. Orangtua kita tentu ingin kita sembuh dulu baru boleh minum es yang lezat itu. Begitu pula dengan Allah, segala yang kita minta Allah tahu apa yang paling baik bagi kita. Mungkin tidak sekarang, atau tidak di dunia ini Allah mengabulkannya. Karena Allah tahu yang terbaik yang kita tidak tahu. Kita sembuhkan dulu diri kita sendiri dari “pilek” dan “demam”…. dan terus berdoa.
Sabtu, Agustus 20
Pesepakbola Top yang Rajin Berpuasa
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa", (Qs Al Baqarah 183).
Ayat ini dipahami betul oleh seorang pria bernama Frederic Oumar Kanoute. Bagi pria kelahiran Lyon Prancis, 2 September 1977 tersebut, puasa Ramadan adalah wajib dan tidak bisa ditawar-tawar. Meski ia berprofesi sebagai pemain sepak bola profesional dan dituntut memiliki stamina yang prima, puasa bukanlah menjadi hambatan untuknya.
Suatu petang di salah satu kota di Andalusia, Spanyol, Kanoute membuktikan kepada puluhan ribu publik bahwa keimanannya untuk tetap menahan lapar dan haus, tidak menyurutkan kemampuannya untuk berjibaku di lapangan hijau. Padahal klubnya Sevilla tengah menghadapi klub raksasa Spanyol, Barcelona di Final leg pertama Piala Super Spanyol 2010.
Pelatih Kanoute, Antonio Alvares awalnya membangku cadangkannya karena sadar sang pemain baru saja menjalani puasa makan dan minum selama 12 jam. Dia memutuskan untuk menggunakan jasa Kanoute di babak kedua.
Kanoute memasuki lapangan. Cukup 10 menit baginya untuk mengantarkan keunggulan bagi Sevilla. Tidak berhenti hingga di situ, Kanoute kembali menambah golnya dan mengantarkan Sevilla menang 3-1 atas Barcelona pada Agustus 2010 lalu. Meski akhirnya Barca yang menjadi juara dengan menjungkalkan Sevilla dengan skor 4-0 di leg kedua di stadion Camp Nou.
Aksi Kanote bisa dibilang tetap mengkilap selama Ramadan. Total dia bukukan setengah lusin gol ke gawang lawan di saat tubuhnya tengah menjalankan puasa.
“Saya coba menjalankan kepercayaan dengan sebaik yang saya bisa. Seorang muslim pun tahu puasa justru menyimpan kekuatan dan tidak akan memperlemah kemampuan seorang muslim,” ujar Kanoute seperti dikutip The Independent.
Apa yang dikatakan pemain yang memiliki sebuah masjid di kota Sevilla itu merujuk sejarah kemenangan tentara muslim yang tengah berpuasa di medan badar di zaman Rasulullah Muhammad SAW.
Bukan hanya Kanoute yang tetap menjalankan puasa di tengah ketatnya persaingan sepak bola Eropa, gelandang klub Inter Milan yang sempat dipinjamkan ke Sunderland, Sulley Muntari pun melakukan hal serupa.
Tantangan bagi Muntari terbilang lebih berat dari apa yang dialami Kanoute. Saat Inter masih di bawah kendali pelatih, Jose Mourinho, Muntari tetap menjalankan ibadah walau tidak sejalan dengan keinginan sang pelatih berjuluk The Special One itu.
Pemain asal Ghana ini tidak gentar dengan keputusannya melawan sang pelatih. Mourinho bahkan pernah menyatakan kepada publik keberatannya atas keputusan Muntari berpuasa.
“Muntari punya berbagai kendala yang terkait bulan Ramadan. Tetap menjalankan puasa adalah tidak ideal bagi kondisi seorang olahragawan,” begitu ungkap Mourinho pada Agustus 2009, seperti dikutip Dailymail.
Ucapan yang langsung mendapat reaksi keras, bahkan dari publik Italia yang non-muslim. Mourinho dianggap tidak menghargai kepercayaan Muntari yang tetap ingin beribadah dan bertarung di lapangan hijau.
Presiden Organisasi Muslim Italia, Mohamed Nour Dachan mengatakan berpuasa justru akan memberikan kekuatan mental dan psikologi yang lebih bagi seorang pesepakbola muslim seperti Muntari. Karenanya menjadi keuntungan bagi sang pelatih jikalau sang pemain memiliki motivasi lebih saat turun laga dalam kondisi berpuasa.
Komentar Dachan didukung oleh seorang pelatih fisik ternama Italia, Stefano Tirelli. “Memang ada atlet yang terkuras energinya dengan berpuasa. Tetapi ada pula yang memiliki pengaturan emosi dan genetik baik sehiingga tetap memiliki kapasitas fisik yang sama dengan orang yag tidak berpuasa,” jelasnya.
Mourinho pun melunak. Pelatih berkebangsan Portugal itu mengizinkan Muntari untuk tetap menjalankan ibadahnya.
Jose Mourinho bahkan kini memiliki sikap toleransi yang jauh lebih tinggi. Ini tidak terlepas dari tujuh pemainnya di klub Real Madrid merupakan muslim yang memiliki kepercayaan menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan.
Mereka adalah Mahmadou Diarra, Lassana Diarra, Sami Khedira, Mesut Ozil, Nuri Sahin, Hamit Altintop dan Karem Benzema.
Kendati ada yang tetap berpuasa, sejumlah pesepak bola lain memutuskan untuk tidak berpuasa dan menggantinya dengan membayar fidyah di akhir Ramadan. Salah satunya adalah mantan gelandang Juventus yang kini memperkuat PSG, Mohammed Sissoko. Mengenai hal ini, ada sejumlah ulama yang memberi toleransi.
Seperti dikutip situs Bikyamasr, ulama Al Azhar pernah memfatwakan izin tidak berpuasa bagi para pesepakbola saat hari pertandingan.
Terlepas dari fatwa itu, para pesepakbola seperti Kanoute dan Muntari memberi contoh bagaimana puasa tidak hanya dihabiskan untuk tidur dan bermalas-malasan. Keduanya justru tetap berlatih sama dengan pemain bola yang non-muslim dan bermain di kompetisi yang ketat dalam kondisi menahan haus, lapar serta harus meredam emosi.
informasi penting
- bkdbandung
- kabbandung
- kpudkabbandung
- Alkhoirot
- Beasiswa
- bandungbarat
- CPNS
- Loker
- Kerja
- Informasi Kerja
- Blog Tutorial
- Blogger Indonesia
- Info Beasiswa
