Jumat, September 7

Olah Raga-Olah Nafas-Olah Batin

Olah raga, Olah nafas, Olah batin
Apakah perbedaan antara Tenaga Dalam dengan Kebatinan?
Seringkali saya mendapatkan pertanyaan seputar apa hubungannya antara tenaga dalam (inner power) selanjutnya saya singkat TD, dengan olah kebatinan. Apa perbedaannya dan  bagaimana penjelasannya. Sebelum sampai pada penjelasan soal olah batin, ada baiknya terlebih dahulu saya berikan ulasan singkat ketiga macam pengolahan diri tersebut agar lebih mudah memahami perbedaan di antara ketiganya.
OLAH RAGA
Olah raga merupakan kegiatan untuk melatih fisik yang meliputi seluruh jaringan otot termasuk sistem saraf. Pada kegiatan olah raga seseorang hanya melatih PENGOLAHAN pada fisiknya saja, misalnya dengan cara menggerakkan dan melatih beban pada otot serta melatih diri untuk memaksimalkan fisiologi dalam sistem saraf tubuh kita. Tujuannya agar organ-organ dalam tubuh menjadi fit dan dapat bekerja secara normal dan maksimal sesuai fungsinya masing-masing. Mengolah raga, atau mengolah fisik sepadan dengan olah raga bodybuilding (bina raga) sebagaimana banyak kita temukan pada sanggar-sanggar senam dan sasana olah raga termasuk seni beladiri, serta gym atau lebih dikenal sebagai tempat pembinaan kesehatan raga.
Lazimnya setiap orang memiliki kekuatan fisik yang berbeda-beda. Perbedaannya itu memang ada, terkait dengan seberapa panjang nafas dan seberapa besar volume otot seseorang. Kedua hal itu menjadi faktor adanya perbedaan tenaga fisik orang per orang. Namun perbedaan itu masih dalam taraf wajar dan masih berada di dalam range kekuatan fisik manusia pada umumnya. Perbedaan tenaga fisik akan menjadi signifikan bila dibandingkan dengan tenaga para buruh kasar, para atlet, para olah-ragawan dan orang-orang yang telah melalukan bodybuilding. Mereka itu orang  yang otot-ototnya telah dibangun dan sudah terbiasa dengan beban yang berat. Kekuatan itu ada sebagai hasil pelatihan diri secara rutin dalam mengolah raganya.
OLAH NAFAS
Olah nafas dalam hal ini melatih organ fisik pernafasan terutama otot dada, perut, jantung dan paru-paru. Manfaat olah nafas bukan hanya menguatkan otot jantung dan menambah jaringan pengikat oksigen pada paru-paru. Manfaat selebihnya dan sekaligus menjadi salah satu tujuan utama mengolah nafas yakni untuk membangkitkan tenaga dalam atau innerpower (IP). Sebagaimana telah saya tulis dalam posting terdahulu tentang Tenaga Dalam, bahwa dalam diri setiap orang sudah menyimpan potensi IP yang merupakan bawaan sejak lahir. Untuk menjalani rutinitas hidup sehari-harinya kita hanya memanfaatkan cadangan TD dalam tubuh kita rata-rata 10-15% saja. Itupun hanya terpakai manakala dalam keadaan darurat dan bilamana terjadi suatu gerakan yang bersifat spontanitas saja. Artinya tenaga dalam hanya bekerja atau muncul melalui kendali alam pikiran bawah sadar (unconsciousness). Misalnya saat keadaan terpaksa, atau dalam situasi darurat dan menghadapi bahaya. Oleh sebab itu bagi yang tidak terbiasa mengolah tenaga dalam, wajar saja bila merasa kesulitan memanfaatkannya pada saat seseorang membutuhkan atau bilamana seseorang sengaja merencanakan untuk menggunakannya. Karena pada saat demikian yang mengendalikan bukan lagi alam pikiran bawah sadarnya melainkan alam pikiran sadar (consciousness).
Olah nafas bertujuan sebagaimana olah raga, tetapi mempunyai PERBEDAAN OBYEK yang diolahnya. Dalam kegiatan olah nafas yang diolah adalah innerpower atau tenaga dalam. Dengan tujuan yang lebih fokus sebagai innerpower building, atau membangun dan mengembangkan tenaga dalam yang ada di dalam diri kita.
Mengapa innerpower perlu diolah ?
Itu sebabnya, innerpower bangsa manusia relatif sama volumenya dalam satu rentang nilai atau range. Hal ini seperti halnya otot kita dengan otot milik orang lain atau tenaga fisik seseorang satu sama lainnya masih berada di dalam rentang nilai yang sama. Sebagaimana telah saya sampaikan di atas. Bila kita ingin mempunyai innerpower yang dapat melampaui range, maka diperlukan pelatihan atau olah tanaga dalam di antaranya melalui teknik mengolah pernafasan.
Oleh karena itu, seseorang yang sering berlatih olah pernafasan melalui beragam teknik, maka dengan sendirinya innerpower akan semakin kuat kualitasnya dan semakin besar volumenya. Tujuan dari mengelola tenaga dalam selain yang saya sebut diatas adalah agar supaya seseorang dapat memanfaatkan & mengendalikan tenaga dalam (innerpower management) melalui pikiran sadarnya. Sehingga penggunaan tenaga dalam dapat dilakukan secara terencana dan tidak tergantung pada kendali bawah sadar atau spontanitas semata. Dengan demikian kita akan mempunyai kemerdekaan kapan akan menggunakan TD dan dengan otoritas sepenuhnya ada di tangan kita.
OLAH BATIN
Setelah kita memahami perbedaan antara olah raga dan olah nafas yang berhubungan dengan tenaga dalam. Selanjutnya mari kita sama-sama mengupas soal olah kebatinan, atau membangun kakuatan batin. Sampai di sini kita dapat memahami jika olah raga yang diolah adalah fisiknya, olah nafas yang diolah adalah tenaga dalamnya, sementara itu olah batin yang diolah adalah sisi kebatinannya, yakni jiwa (soul) dan sukma (spirit) kita. Mengolah batin setidaknya terdapat dua orientasi. Orientasi ke dalam diri (inner-world) di antaranya berupa meditasi, puasa, samadi, dan orientasi keluar dalam bentukpatrap-laku yakni mengimplementasikan perilaku utama dalam kehidupan sehari-harinya. Untuk lebih mengenal bagaimana cara mengolah batin, para pembaca yang budiman dapat membuka tulisan saya terdahulu dalam posting Laksita Jati dan terdapat pula di beberapa bagian posting saya yang lain di blog ini.
Faktor Perusak Kepekaan Batin
Setiap orang memiliki kepekaan “mata” batin yang relatif setara terutama pada usia kanak-kanak antara 1 hingga 6 tahun. Seiring dengan bertambahnya usia dan kedewasaan seseorang, banyak sekali kegiatan yang lebih bertumpu pada pendayagunaan otak kiri. Di sisi lain perlakuan pada otak kanan lebih banyak menerima doktrin keyakinan yang bersifat anti-dialog dan disadari atau tidak doktrin-doktrin itu telah meredam pemikiran-pemikiran kritis. Hal ini menjadi salah satu yang menyebabkan kepekaan batin seseorang menjadi sirna secara perlahan. Hal itu dapat mulai dirasakan saat usia 8 hingga 15 tahun seiring dengan kian banyaknya pendayagunaan otak kiri dan doktrin-doktrin yang diterimanya saban hari. Keduanya akan sangat mewarnai alam pikiran bawah sadarnya. Kelak setelah dewasa alam bawah sadarnya yang telah mengendapkan pelajaran dan ajaran doktrin, akan kembali merekonstruksi pola pikir yang sesuai dengan latar belakang pendidikan dan doktrin yang ia peroleh. Walaupun demikian, tidak sedikit di antara anak-anak yang mampu “meloloskan diri” dari cengekeraman kedua faktor tersebut. Sehingga dalam pertmbuhannya, kepekaan batin yang sudah inheren semenjak kanak-kanak tidak luntur dan sirna sampai kapanpun. Tipikal pada anak demikian ini, otak kanan dan otak kiri bekerja secara seimbang. Sehingga mampu membangun individu dengan kriteria yang kuat mental lahir dan batinnya, peka mata batin dan cerdas pikirannya. Ia tumbuh sebagai remaja yang memiliki tingkat kejeniusan di atas rata-rata. Anak kriteria demikian akan mampu menjelaskan secara logik dan ilmiah sekalipun terhadap hal-hal metafisis. Walaupun bukan hal baru, namun diangap sebagai generasi manusia baru, yang saat ini familiar diistilahkan sebagai generasi indigo dan kristal.
Bagi sebagian orang yang kepekaan mata batinnya menurun drastis atau yang sudah sirna samasekali bukanlah suatu keuntungan. Maka banyak orang kini mulai menyadari akan pentingnya mengolah dan membangkitkan lagi kepekaan mata batinnya. Di antara TEKNIK DASAR mengolah batin itu adalahmeditasi, pernafasan dengan teknik khusus misalnya pernafasan perut (bukan dada). Dan termasuk di dalamnya adalah meditasi cakra. Namun lebih utama adalah dengan cara patrap laku, atau mengatur segala tindakan dan perbuatan sebagai perilaku yang utama atau lakutama (perilaku dan perbuatan terpuji/luhur). Hal ini berdasarkan pada prinsip “ngelmu iku kalakone kanthi laku….” sebagaimana yang tertulis dalam Serat Wredhatama atau Wedhatama karya besar KGPAA Mangkunegoro IV (1811-1882 M).
APA HUBUNGAN TENAGA DALAM DENGAN OLAH KEBATINAN ?
Pertanyaan seperti di atas sering kali saya dapatkan dari dulur-dulur di blog, melalui email, dalam forum diskusi dan setiap kali kesempatan mengajarkan langsung pada suatu perguruan ilmu TD dan martial arts. Dari kalangan awam, sampai panggilut kanuragan, dan para pendekar di berbagai organisasi. Namun saya sangat maklum karena antara keduanya memang terkadang TERKESAN rancu. Namun sesungguhnya tidaklah rancu. Saya selalu tegas memberikan jawaban bahka olah nafas tenaga dalam tidak ada hubungannya dengan  olah kebatinan. Keduanya berdiri sendiri dan merupakan disiplin ilmu yang berbeda dan dapat berjalan sendiri-sendiri tak ada ketergantungan di antaranya. Tetapi keduanya bisa saling mendukung dan rasanya menjadi lebih lengkap dengan mengolah keduanya.
Keberhasilan mengolah tenaga dalam tidaklah tergantung pada sikap dan perilaku utama.Sementara itu mengolah kebatinan mau tidak mau mensyaratkan seorang pelaku harus berperilaku utama, mengimplementasikan kautamaning bebuden kang luhurJika syarat ini di langgar maka seseorang yang megolah batin tidak akan memperoleh hasil sesuai yang diharapkan. Pelaku olah batin akan mudah sekali membuktikan sendiri adanya hukum sebab akibat.Apa yang ia “tanam” adalah benih-benih kebaikan, maka ia akan menuai kebaikan yang berlimpah. Demikian pula sebaliknya bila “menanam benih kejahatan” maka ia akan menuai celaka.
Lain halnya dengan seseorang yang giat mengolah tenaga dalam. Tidak ada hubungannya dengan baik buruk perilaku dan moralitas pribadinya. Oleh sebab itu, ada kalanya seorang penjahat tetap mempunyai tenaga dalam yang cukup tinggi. Jadi tenaga dalam tidaklah menjadi monopoli orang-orang baik saja. Besar kecilnya TD tidak akan mempengaruhi pada baik buruknya sikap perilaku seseorang. Karena tenaga dalam atau inner-power (IP) bersifat netral. Perbedaan mencolok antarainner-power  yang masih berada di dalam raga atau tubuh fisik kita dengan olah batin  yang berada di dalam kekuatan spirit (power of spirit/POS) yang inheren dalam diri kita. POS sebenarnya jauh lebih dahsyat ketimbang TD. Kedahsyatan itu akan mudah dirasakan manakala batin kita telah sampai pada titik nol atau “duwe rasa, ora duwe rasa duwe“. Perbedaan lainnya adalah POS masuk dalam ranahngelmu kasepuhan. Sementara itu TD  masih berada dalam ranah ngelmu kanoman. Dan ilmu magictemasuk dalam ngelmu kajiman.
Untuk lebih memberikan dasar argumen sekaligus bukti faktual bahwa antara TD dengan olah batin tidak ada hubungannya satu dengan lainnya. Para pembaca yang budiman tentunya mudah menyaksikan di satu pihak ada seorang yang sangat peka batinnya, tapi ia tidak memiliki TD, sebaliknya ada beberapa orang teman memiliki TD cukup dahsyat tetapi mata batinnya tidak peka.
Mantra, rapal, doa, wiridan dalam ber-olah nafas dan olah batin.
Dalam mempelajari olah nafas atau TD, dan olah batin seringkali menggunakan rapal, mantra, doa, wiridan dan sejenisnya. Semua itu sekedar sebagai formalitas saja. Ada sisi manfaatnya yakni untuk membangkitkan  kemantaban semangat dan keseriusan pada saat berlatih. Cara yang sama boleh juga diterapkan pada saat berolah raga. Misalnya saat berlatih sprint, sepak bola, body building dll sembari mengucapkan lafad doa, wirid, mantera, puja-puji atau bisa juga sambil bernyanyi. Semua itu tujuan yang sesungguhnya untuk menumbuhkan spirit belajar. Jadi olah nafas dan kebatinan tak ada hubungannya dengan agama manapun. Semua itu merupakan teknik yang bersifat ilmiah, natural dan universal.
Melalui tulisan ini pula saya pribadi ingin meluruskan pemahaman sebagian orang yang terkadang mengkait-kaitkan antara TD dengan ajaran sesat atau bertentangan dengan doktrin agama. Jika dari kacamata agama, olah nafas atau olah tenaga dalam dianggap keliru, sebaiknya olah raga dinilai sesat dan keliru pula. Karena keduanya pada prinsipnya sama, hanya berbeda pada obyek yang diolahnya. Dan ketiga macam OLAH di atas, pada prinsipnya sama pula dengan olah-olah (Jawa : memasak). Yakni mengolah bahan mentah menjadi sajian menu yang enak dimakan dan berasa lezat.  Kita biasakan diri untuk tidak kagetan dan gumunan apalagi  anti-pati dalam merespon segala sesuatu yang  baru atau yang belum dipahami. Agar supaya ilmu pengetahuan kita mudah bertambah, dan sifat bijaksana mudah dibangun dalam diri kita masing-masing.
KESIMPULAN
Hubungan antara ketiga macam pengolahan diri, yang terdiri dari olah ragaolah nafas, dan olah batinketiganya tidak saling bergantung satu sama lainnya. Namun ketiganya tidak saling bertentangan pula. Malah bila dipadukan ketiganya akan saling mendukung dan memberikan nilai tambah yang positif. Olah nafas sebagai sarana membangkitkan tenaga dalam posisinya berada di tengah-tengah, di antara olah raga dengan olah batin. Olah nafas mencakup sebagian dari olah raga, namun dalam teknik-teknik olah pernafasan tertentu, sebagian kecil sudah berada dalam wilayah metode pengolahan batin.
Semoga bermanfaat, salam asah asih asuh

Minggu, Oktober 30

Sempat memiliki

Mengapa Kita Bertemu

Bila Akhirnya Dipisahkan

Mengapa Kita Berjumpa

Tapi Akhirnya Di Jauhkan


Kau Bilang Hatimu Aku

Nyatanya Bukan Untuk Aku


Bintang Di Langit Nan Indah

Dimanakah Cinta Yg Dulu

Masihkah Aku Disana

Di Relung Hati Dan Mimpimu


Andaikan Engkau Disini

Andaikan Tetap Denganku

Aku Hancur Ku Terluka

Namun Engkaulah Nafasku

Kau Cintaku Meski Aku

Bukan Di Benakmu Lagi

Dan Kuberuntung

Sempat Memilikimu...


Engkau Mengatakan

Merindukan Diriku Lagi

Ingin Ku Sampaikan

Ku Tak Hanya Sekedar Itu...

Kamis, Oktober 13

Jenuh Tuhanku....

Tuhan, aku jenuh. bukan karena tidak mensyukuri nikmatmu yang luarbiasa ini. sama sekali bukan.
tetapi, rutinitas dan rutinitas ini semakin kujalani, semakin hatiku menuntut untuk ingin lari sejenak.
tidak, aku tidak akan melarikan diri untuk saat ini. karena aku akan belajar kuat, bukan menjadi pecundang

Tuhan, berikanlah kelonggaran fikiran untuk berhenti sejenak. karena aku masih manusia yang sangat terbatas.
sistem ini membuat aku tidak punya waktu untuk diriku sendiri, untuk hidupku.
benar, memang mengajarkan ku untuk peduli kepada oranglain tanpa melihat label yang melekat padanya.
tapi, Tuhan. bukankah aku punya tubuh dan jiwa yang punya porsi untuk”tidak kuabaikan”?

Tuhan..jika aku terlalu lemah,berikan kekuatan untuk ku..

Tuhan,bukan aku menghujatmu mengatakan kau tidak ada..tapi hati ku yang hilang,perasaan ku yang kosong..
tak bisa menemukanmu..

Tuhan,aku lelah untuk menyalahkan siapapun,dan juga engkau..
Karena aku akan salah jika melakukan itu.

Tuhan,tunjukkan aku arti normal dalam setiap tingkah ku..
Arti normal untuk hidupku..

Tuhan, aku berharap ini bukan suatu keluhan. sebagai kata2 yang tidak pantas diucapkan oleh umatmu, bernegosiasi
denganmu tentang hidup.

Tuhan, aku memang jenuh. aku jenuh untuk terus tertawa dengan menahan tangisan.
Aku jenuh untuk merasakan keramain dalam kehilangan jiwa ku.

tapi ringankanlah bibirku untuk selalu tersenyum dan menutupi itu semua

Kamis, September 29

Bila Tak bersama Lagi

Jika Suatu Ketika Kita Tak Bersama Lagi
Aku ingin kau mengenang
segala kisah tentang kita
yang telah terpahat rapi di rangka langit
bersama segenap noktah-noktah peristiwa
juga canda dan pertengkaran-pertengkaran kecil
yang mewarnai seluruh perjalanan kita
Dalam Lengang, Tanpa Kata

Jika Suatu Ketika Kita Tak Bersama Lagi
Aku ingin kau tetap menyimpan
setiap denyut nadi yang berdetak
dan degup cepat debar jantung
saat mataku memaku matamu
disela derai gerimis menyapu beranda
kala kita pertama bertemu di temaram senja
Dalam Sepi, Tanpa Suara

Jika Suatu Ketika Kita Tak Bersama Lagi
Aku ingin kita meletakkan segala perih itu
disini, pada titik dimana kita akan berbalik
dan menyimpan senyum dibelakang punggung masing-masing
lalu membiarkan waktu menggelindingkannya
hingga batas cakrawala
bersama sesak rindu tertahan didada
Dalam Diam, Tanpa Airmata

Jika Suatu Ketika Kita Tak Bersama Lagi
Aku ingin cinta itu tetap tersimpan rapi
pada larik bianglala, pada hujan, pada deru kereta,
pada embun di rerumputan, pada pucuk pepohonan
sembari memetik mimpi yang telah kita sematkan disana
lalu mendekapnya perlahan
Dalam Sunyi, Tanpa Cahaya

Jika Suatu Ketika Kita Tak Bersama Lagi
Aku ingin kita akan tetap saling menyapa
lalu merajut angan kembali
seraya meniti ulang segala jejak yang sudah kita tinggalkan
lantas menyadari bahwa menjadi tua adalah niscaya
dan untuk itu kita tak perlu ambil peduli
karena kita tahu

Dalam Lengang, Tanpa Kata
Dalam Sepi, Tanpa Suara
Dalam Diam, Tanpa Airmata
Dalam Sunyi, Tanpa Cahaya

Ada Bahagia
Untuk Kita
Hanya Kita…

Perlahan aku menutup lubang itu dengan tanah basah. Tak ada airmata mengalir.

Aku lalu melangkah ringan kedepan. Hidup ini, memang terlalu indah untuk dinikmati..

Jumat, September 2

Diantara takdir dan ikhtiar

Sekeras tekad siti Hajar yang tak pernah pudar

Meski disengat matahar padang pasir yang membakar,

tidak diam dan tidak menyerah


Ibunda Ismail itupun bergerak, berjalan dan berlari

dengan keyakinan dan do'a

antara bukit Sofa dan bukit Marwah


Dicarinya air sumber kehidupan

pelepas dahaga bagi buah hati tercinta

namun hidup bukan hanya perjuangan dan kerja keras


ia adalah sebuah takdir jua

ia adalah kenyataan yang harus diterima dan

dijalani dengan ketegaran


Setegar Ismail yang merelakan pengorbanan diri

demi ketaatan kepada Sang Pencipta


Begitulah manusia

Hidup di antara takdir dan ikhtiar

Menabur Angin Busuk

Seorang perempuan menceritakan berita memalukan mengenai tetangganya. Dalam beberapa hari, seluruh desa mengetahui cerita tersebut hingga orang yang diceritakan itu merasa sangat malu sekali.

Belakangan, perempuan itu mengetahui bahwa berita yang disebarkannya ternyata tidak benar.
Dia menyesal dan kemudian mendatangi seorang yang bijak untuk mencari tahu apa yang dapat dilakukan guna memperbaiki kesalahannya itu.

“pergilah ke pasar” kata sang orang tua bijak.
“dan belilah seekor ayam, sembelihlah, kemudian dalam perjalanan pulang cabuti bulunya dan buang satu persatu di sepanjang jalan”.

Meskipun merasa sangat heran, si perempuan melakukan apa yang disarankan kepadanya. Namun, ia merasa masih belum bisa memperbaiki kesalahannya.
Keesokan harinya, ia kembali mengunjungi orangtua bijak dan menanyakan persoalannya kembali.

Orangtua bijak berkata : “sekarang pergilah kembali dan kumpulkan semua bulu yang kau buang kemarin dan bawa kembali kepadaku”.

Si perempuan itu pun menyusuri jalan yang sama dan berusaha mengumpulkan bulu-bulu ayam yang kemarin telah dicabuti dan dibuangnya. Namun angin telah menerbangkan bulu-bulu itu hingga mustahil ia bisa mengumpulkannya lagi.
Setelah mencari-cari selama seharian, ia kembali ke tempat sang orangtua bijak dengan membawa tiga potong bulu ayam saja.

“lihatlah” kata sang orangtua bijak, “sangat mudah mencabuti bulu ayam dan melemparkannya. Begitu pula tidak sulit untuk menyebarkan berita bohong, namun sekali terlempar, kamu tidak akan pernah bisa memperbaiki kesalahanmu secara utuh”.

Orang bijak ini rupanya hendak mengajarkan pada kita semua firman Alloh dalam Al-Qur’an : “hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan oranglain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertawakalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”

Sengatan atau madu

Seorang Pawang Lebah tersenyum ketika bertemu sarang lebah

terbayang madu yang akan diperolehnya.

Namun...

Bagi orang biasa bertemu sarang lebah menimbulkan rasa was-was dan takut

terbayang sengatan lebah yang menyakitinya.

Bertemu dengan Musibah bagaikan bertemu dengan Sarang Lebah

Bagi pawang musibah, dia akan tersenyum bila bertemu musibah

karena terbayang hikmah yang akan diperolehnya

Sedangkan bagi orang biasa bertemu dengan musibah

menimbulkan rasa cemas, gelisah dan takutnya

karnea terbayang kesusahan yang akan menimpanya

BAGAIMANA dengan diri kita ketika bertemu sarang lebah,

dapat sengatannya atau madunya?

Yang Kita Sia-Siakan...........


Perjuangan yang kita lakukan,

Sia-sia karena tak ada tujuan yang jelas.


Pengetahuan yang kita miliki,

Sia-sia karena tak diamalkan.


Pengorbanan yang kita lakukan,

Sia-sia karena mengharap pujian.


Marah yang kita lampiaskan,

Sia-sia karena dilandasi emosi bukan rasio.


Cinta yang kita berikan,

Sia-sia karena dilandasi syahwat semata.


Kekayaan yang kita dapatkan,

Sia-sia karena hanya untuk kepentingan pribadi.


Kegagalan yang kita alami,

Sia-sia karena dijadikan alasan keputus-asaan.


Musibah yang kita jumpai,

Sia-sia karena tidak menjadikan kita semakin kuat.


Kesuksesan yang kita raih,

Sia-sia karena memuat kita semakin sombong.


Anugrah yang kita dapatkan,

Sia-sia karena tidak disyukuri.


Ketika Alloh berkata tidak...


Ya Allah ambillah kesombonganku dariku
Allah berkata, “Tidak. Bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkannya.”

Ya Allah sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat
Allah berkata, “Tidak. Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara.”

Ya Allah beri aku kesabaran
Allah berkata, “Tidak. Kesabaran didapat dari ketabahan dalam menghadapi cobaan; tidak diberikan, kau harus meraihnya sendiri.”

Ya Allah beri aku kebahagiaan
Allah berkata, “Tidak. Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri untuk menghargai keberkahan itu.”

Ya Allah jauhkan aku dari kesusahan
Allah berkata, “Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu pada Ku.”

Ya Allah beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat
Allah berkata, “Tidak. Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati segala hal.”

Ya Allah bantu aku MENCINTAI orang lain, sebesar cintaMu padaku
Allah berkata… “Akhirnya kau mengerti !”

Kadang kala kita berpikir bahwa Allah tidak adil, kita telah susah payah memanjatkan doa, meminta dan berusaha, pagi-siang-malam, tapi tak ada hasilnya. Kita mengharapkan diberi pekerjaan, puluhan-bahkan ratusan lamaran telah kita kirimkan tak ada jawaban sama sekali — orang lain dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan. Kita sudah bekerja keras dalam pekerjaan mengharapkan jabatan, tapi justru orang lain yang mendapatkannya-tanpa susah payah.

Kita mengharapkan diberi pasangan hidup yang baik dan sesuai, berakhir dengan penolakkan dan kegagalan, orang lain dengan mudah berganti pasangan. Kita menginginkan harta yang berkecukupan, namun kebutuhanlah yang terus meningkat.

Coba kita bayangkan diri kita seperti anak kecil yang sedang demam dan pilek, lalu kita melihat tukang es. Kita yang sedang panas badannya merasa haus dan merasa dengan minum es dapat mengobati rasa demam (maklum anak kecil). Lalu kita meminta pada orang tua kita (seperti kita berdoa memohon pada Allah) dan merengek agar dibelikan es. Orangtua kita tentu lebih tahu kalau es dapat memperparah penyakit kita. Tentu dengan segala dalih kita tidak dibelikan es. Orangtua kita tentu ingin kita sembuh dulu baru boleh minum es yang lezat itu. Begitu pula dengan Allah, segala yang kita minta Allah tahu apa yang paling baik bagi kita. Mungkin tidak sekarang, atau tidak di dunia ini Allah mengabulkannya. Karena Allah tahu yang terbaik yang kita tidak tahu. Kita sembuhkan dulu diri kita sendiri dari “pilek” dan “demam”…. dan terus berdoa.

Sabtu, Agustus 20

Pesepakbola Top yang Rajin Berpuasa

Kanoute, Muntari (Getty Images-Jasper Juinen/Claudio Villa)


"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa", (Qs Al Baqarah 183).

Ayat ini dipahami betul oleh seorang pria bernama Frederic Oumar Kanoute. Bagi pria kelahiran Lyon Prancis, 2 September 1977 tersebut, puasa Ramadan adalah wajib dan tidak bisa ditawar-tawar. Meski ia berprofesi sebagai pemain sepak bola profesional dan dituntut memiliki stamina yang prima, puasa bukanlah menjadi hambatan untuknya.

Suatu petang di salah satu kota di Andalusia, Spanyol, Kanoute membuktikan kepada puluhan ribu publik bahwa keimanannya untuk tetap menahan lapar dan haus, tidak menyurutkan kemampuannya untuk berjibaku di lapangan hijau. Padahal klubnya Sevilla tengah menghadapi klub raksasa Spanyol, Barcelona di Final leg pertama Piala Super Spanyol 2010.

Pelatih Kanoute, Antonio Alvares awalnya membangku cadangkannya karena sadar sang pemain baru saja menjalani puasa makan dan minum selama 12 jam. Dia memutuskan untuk menggunakan jasa Kanoute di babak kedua.

Kanoute memasuki lapangan. Cukup 10 menit baginya untuk mengantarkan keunggulan bagi Sevilla. Tidak berhenti hingga di situ, Kanoute kembali menambah golnya dan mengantarkan Sevilla menang 3-1 atas Barcelona pada Agustus 2010 lalu. Meski akhirnya Barca yang menjadi juara dengan menjungkalkan Sevilla dengan skor 4-0 di leg kedua di stadion Camp Nou.

Aksi Kanote bisa dibilang tetap mengkilap selama Ramadan. Total dia bukukan setengah lusin gol ke gawang lawan di saat tubuhnya tengah menjalankan puasa.

“Saya coba menjalankan kepercayaan dengan sebaik yang saya bisa. Seorang muslim pun tahu puasa justru menyimpan kekuatan dan tidak akan memperlemah kemampuan seorang muslim,” ujar Kanoute seperti dikutip The Independent.

Apa yang dikatakan pemain yang memiliki sebuah masjid di kota Sevilla itu merujuk sejarah kemenangan tentara muslim yang tengah berpuasa di medan badar di zaman Rasulullah Muhammad SAW.

Bukan hanya Kanoute yang tetap menjalankan puasa di tengah ketatnya persaingan sepak bola Eropa, gelandang klub Inter Milan yang sempat dipinjamkan ke Sunderland, Sulley Muntari pun melakukan hal serupa.

Tantangan bagi Muntari terbilang lebih berat dari apa yang dialami Kanoute. Saat Inter masih di bawah kendali pelatih, Jose Mourinho, Muntari tetap menjalankan ibadah walau tidak sejalan dengan keinginan sang pelatih berjuluk The Special One itu.

Pemain asal Ghana ini tidak gentar dengan keputusannya melawan sang pelatih. Mourinho bahkan pernah menyatakan kepada publik keberatannya atas keputusan Muntari berpuasa.

“Muntari punya berbagai kendala yang terkait bulan Ramadan. Tetap menjalankan puasa adalah tidak ideal bagi kondisi seorang olahragawan,” begitu ungkap Mourinho pada Agustus 2009, seperti dikutip Dailymail.

Ucapan yang langsung mendapat reaksi keras, bahkan dari publik Italia yang non-muslim. Mourinho dianggap tidak menghargai kepercayaan Muntari yang tetap ingin beribadah dan bertarung di lapangan hijau.

Presiden Organisasi Muslim Italia, Mohamed Nour Dachan mengatakan berpuasa justru akan memberikan kekuatan mental dan psikologi yang lebih bagi seorang pesepakbola muslim seperti Muntari. Karenanya menjadi keuntungan bagi sang pelatih jikalau sang pemain memiliki motivasi lebih saat turun laga dalam kondisi berpuasa.

Komentar Dachan didukung oleh seorang pelatih fisik ternama Italia, Stefano Tirelli. “Memang ada atlet yang terkuras energinya dengan berpuasa. Tetapi ada pula yang memiliki pengaturan emosi dan genetik baik sehiingga tetap memiliki kapasitas fisik yang sama dengan orang yag tidak berpuasa,” jelasnya.

Mourinho pun melunak. Pelatih berkebangsan Portugal itu mengizinkan Muntari untuk tetap menjalankan ibadahnya.

Jose Mourinho bahkan kini memiliki sikap toleransi yang jauh lebih tinggi. Ini tidak terlepas dari tujuh pemainnya di klub Real Madrid merupakan muslim yang memiliki kepercayaan menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan.

Mereka adalah Mahmadou Diarra, Lassana Diarra, Sami Khedira, Mesut Ozil, Nuri Sahin, Hamit Altintop dan Karem Benzema.

Kendati ada yang tetap berpuasa, sejumlah pesepak bola lain memutuskan untuk tidak berpuasa dan menggantinya dengan membayar fidyah di akhir Ramadan. Salah satunya adalah mantan gelandang Juventus yang kini memperkuat PSG, Mohammed Sissoko. Mengenai hal ini, ada sejumlah ulama yang memberi toleransi.

Seperti dikutip situs Bikyamasr, ulama Al Azhar pernah memfatwakan izin tidak berpuasa bagi para pesepakbola saat hari pertandingan.

Terlepas dari fatwa itu, para pesepakbola seperti Kanoute dan Muntari memberi contoh bagaimana puasa tidak hanya dihabiskan untuk tidur dan bermalas-malasan. Keduanya justru tetap berlatih sama dengan pemain bola yang non-muslim dan bermain di kompetisi yang ketat dalam kondisi menahan haus, lapar serta harus meredam emosi.

Powered By Blogger