Jumat, September 7

Olah Raga-Olah Nafas-Olah Batin

Olah raga, Olah nafas, Olah batin
Apakah perbedaan antara Tenaga Dalam dengan Kebatinan?
Seringkali saya mendapatkan pertanyaan seputar apa hubungannya antara tenaga dalam (inner power) selanjutnya saya singkat TD, dengan olah kebatinan. Apa perbedaannya dan  bagaimana penjelasannya. Sebelum sampai pada penjelasan soal olah batin, ada baiknya terlebih dahulu saya berikan ulasan singkat ketiga macam pengolahan diri tersebut agar lebih mudah memahami perbedaan di antara ketiganya.
OLAH RAGA
Olah raga merupakan kegiatan untuk melatih fisik yang meliputi seluruh jaringan otot termasuk sistem saraf. Pada kegiatan olah raga seseorang hanya melatih PENGOLAHAN pada fisiknya saja, misalnya dengan cara menggerakkan dan melatih beban pada otot serta melatih diri untuk memaksimalkan fisiologi dalam sistem saraf tubuh kita. Tujuannya agar organ-organ dalam tubuh menjadi fit dan dapat bekerja secara normal dan maksimal sesuai fungsinya masing-masing. Mengolah raga, atau mengolah fisik sepadan dengan olah raga bodybuilding (bina raga) sebagaimana banyak kita temukan pada sanggar-sanggar senam dan sasana olah raga termasuk seni beladiri, serta gym atau lebih dikenal sebagai tempat pembinaan kesehatan raga.
Lazimnya setiap orang memiliki kekuatan fisik yang berbeda-beda. Perbedaannya itu memang ada, terkait dengan seberapa panjang nafas dan seberapa besar volume otot seseorang. Kedua hal itu menjadi faktor adanya perbedaan tenaga fisik orang per orang. Namun perbedaan itu masih dalam taraf wajar dan masih berada di dalam range kekuatan fisik manusia pada umumnya. Perbedaan tenaga fisik akan menjadi signifikan bila dibandingkan dengan tenaga para buruh kasar, para atlet, para olah-ragawan dan orang-orang yang telah melalukan bodybuilding. Mereka itu orang  yang otot-ototnya telah dibangun dan sudah terbiasa dengan beban yang berat. Kekuatan itu ada sebagai hasil pelatihan diri secara rutin dalam mengolah raganya.
OLAH NAFAS
Olah nafas dalam hal ini melatih organ fisik pernafasan terutama otot dada, perut, jantung dan paru-paru. Manfaat olah nafas bukan hanya menguatkan otot jantung dan menambah jaringan pengikat oksigen pada paru-paru. Manfaat selebihnya dan sekaligus menjadi salah satu tujuan utama mengolah nafas yakni untuk membangkitkan tenaga dalam atau innerpower (IP). Sebagaimana telah saya tulis dalam posting terdahulu tentang Tenaga Dalam, bahwa dalam diri setiap orang sudah menyimpan potensi IP yang merupakan bawaan sejak lahir. Untuk menjalani rutinitas hidup sehari-harinya kita hanya memanfaatkan cadangan TD dalam tubuh kita rata-rata 10-15% saja. Itupun hanya terpakai manakala dalam keadaan darurat dan bilamana terjadi suatu gerakan yang bersifat spontanitas saja. Artinya tenaga dalam hanya bekerja atau muncul melalui kendali alam pikiran bawah sadar (unconsciousness). Misalnya saat keadaan terpaksa, atau dalam situasi darurat dan menghadapi bahaya. Oleh sebab itu bagi yang tidak terbiasa mengolah tenaga dalam, wajar saja bila merasa kesulitan memanfaatkannya pada saat seseorang membutuhkan atau bilamana seseorang sengaja merencanakan untuk menggunakannya. Karena pada saat demikian yang mengendalikan bukan lagi alam pikiran bawah sadarnya melainkan alam pikiran sadar (consciousness).
Olah nafas bertujuan sebagaimana olah raga, tetapi mempunyai PERBEDAAN OBYEK yang diolahnya. Dalam kegiatan olah nafas yang diolah adalah innerpower atau tenaga dalam. Dengan tujuan yang lebih fokus sebagai innerpower building, atau membangun dan mengembangkan tenaga dalam yang ada di dalam diri kita.
Mengapa innerpower perlu diolah ?
Itu sebabnya, innerpower bangsa manusia relatif sama volumenya dalam satu rentang nilai atau range. Hal ini seperti halnya otot kita dengan otot milik orang lain atau tenaga fisik seseorang satu sama lainnya masih berada di dalam rentang nilai yang sama. Sebagaimana telah saya sampaikan di atas. Bila kita ingin mempunyai innerpower yang dapat melampaui range, maka diperlukan pelatihan atau olah tanaga dalam di antaranya melalui teknik mengolah pernafasan.
Oleh karena itu, seseorang yang sering berlatih olah pernafasan melalui beragam teknik, maka dengan sendirinya innerpower akan semakin kuat kualitasnya dan semakin besar volumenya. Tujuan dari mengelola tenaga dalam selain yang saya sebut diatas adalah agar supaya seseorang dapat memanfaatkan & mengendalikan tenaga dalam (innerpower management) melalui pikiran sadarnya. Sehingga penggunaan tenaga dalam dapat dilakukan secara terencana dan tidak tergantung pada kendali bawah sadar atau spontanitas semata. Dengan demikian kita akan mempunyai kemerdekaan kapan akan menggunakan TD dan dengan otoritas sepenuhnya ada di tangan kita.
OLAH BATIN
Setelah kita memahami perbedaan antara olah raga dan olah nafas yang berhubungan dengan tenaga dalam. Selanjutnya mari kita sama-sama mengupas soal olah kebatinan, atau membangun kakuatan batin. Sampai di sini kita dapat memahami jika olah raga yang diolah adalah fisiknya, olah nafas yang diolah adalah tenaga dalamnya, sementara itu olah batin yang diolah adalah sisi kebatinannya, yakni jiwa (soul) dan sukma (spirit) kita. Mengolah batin setidaknya terdapat dua orientasi. Orientasi ke dalam diri (inner-world) di antaranya berupa meditasi, puasa, samadi, dan orientasi keluar dalam bentukpatrap-laku yakni mengimplementasikan perilaku utama dalam kehidupan sehari-harinya. Untuk lebih mengenal bagaimana cara mengolah batin, para pembaca yang budiman dapat membuka tulisan saya terdahulu dalam posting Laksita Jati dan terdapat pula di beberapa bagian posting saya yang lain di blog ini.
Faktor Perusak Kepekaan Batin
Setiap orang memiliki kepekaan “mata” batin yang relatif setara terutama pada usia kanak-kanak antara 1 hingga 6 tahun. Seiring dengan bertambahnya usia dan kedewasaan seseorang, banyak sekali kegiatan yang lebih bertumpu pada pendayagunaan otak kiri. Di sisi lain perlakuan pada otak kanan lebih banyak menerima doktrin keyakinan yang bersifat anti-dialog dan disadari atau tidak doktrin-doktrin itu telah meredam pemikiran-pemikiran kritis. Hal ini menjadi salah satu yang menyebabkan kepekaan batin seseorang menjadi sirna secara perlahan. Hal itu dapat mulai dirasakan saat usia 8 hingga 15 tahun seiring dengan kian banyaknya pendayagunaan otak kiri dan doktrin-doktrin yang diterimanya saban hari. Keduanya akan sangat mewarnai alam pikiran bawah sadarnya. Kelak setelah dewasa alam bawah sadarnya yang telah mengendapkan pelajaran dan ajaran doktrin, akan kembali merekonstruksi pola pikir yang sesuai dengan latar belakang pendidikan dan doktrin yang ia peroleh. Walaupun demikian, tidak sedikit di antara anak-anak yang mampu “meloloskan diri” dari cengekeraman kedua faktor tersebut. Sehingga dalam pertmbuhannya, kepekaan batin yang sudah inheren semenjak kanak-kanak tidak luntur dan sirna sampai kapanpun. Tipikal pada anak demikian ini, otak kanan dan otak kiri bekerja secara seimbang. Sehingga mampu membangun individu dengan kriteria yang kuat mental lahir dan batinnya, peka mata batin dan cerdas pikirannya. Ia tumbuh sebagai remaja yang memiliki tingkat kejeniusan di atas rata-rata. Anak kriteria demikian akan mampu menjelaskan secara logik dan ilmiah sekalipun terhadap hal-hal metafisis. Walaupun bukan hal baru, namun diangap sebagai generasi manusia baru, yang saat ini familiar diistilahkan sebagai generasi indigo dan kristal.
Bagi sebagian orang yang kepekaan mata batinnya menurun drastis atau yang sudah sirna samasekali bukanlah suatu keuntungan. Maka banyak orang kini mulai menyadari akan pentingnya mengolah dan membangkitkan lagi kepekaan mata batinnya. Di antara TEKNIK DASAR mengolah batin itu adalahmeditasi, pernafasan dengan teknik khusus misalnya pernafasan perut (bukan dada). Dan termasuk di dalamnya adalah meditasi cakra. Namun lebih utama adalah dengan cara patrap laku, atau mengatur segala tindakan dan perbuatan sebagai perilaku yang utama atau lakutama (perilaku dan perbuatan terpuji/luhur). Hal ini berdasarkan pada prinsip “ngelmu iku kalakone kanthi laku….” sebagaimana yang tertulis dalam Serat Wredhatama atau Wedhatama karya besar KGPAA Mangkunegoro IV (1811-1882 M).
APA HUBUNGAN TENAGA DALAM DENGAN OLAH KEBATINAN ?
Pertanyaan seperti di atas sering kali saya dapatkan dari dulur-dulur di blog, melalui email, dalam forum diskusi dan setiap kali kesempatan mengajarkan langsung pada suatu perguruan ilmu TD dan martial arts. Dari kalangan awam, sampai panggilut kanuragan, dan para pendekar di berbagai organisasi. Namun saya sangat maklum karena antara keduanya memang terkadang TERKESAN rancu. Namun sesungguhnya tidaklah rancu. Saya selalu tegas memberikan jawaban bahka olah nafas tenaga dalam tidak ada hubungannya dengan  olah kebatinan. Keduanya berdiri sendiri dan merupakan disiplin ilmu yang berbeda dan dapat berjalan sendiri-sendiri tak ada ketergantungan di antaranya. Tetapi keduanya bisa saling mendukung dan rasanya menjadi lebih lengkap dengan mengolah keduanya.
Keberhasilan mengolah tenaga dalam tidaklah tergantung pada sikap dan perilaku utama.Sementara itu mengolah kebatinan mau tidak mau mensyaratkan seorang pelaku harus berperilaku utama, mengimplementasikan kautamaning bebuden kang luhurJika syarat ini di langgar maka seseorang yang megolah batin tidak akan memperoleh hasil sesuai yang diharapkan. Pelaku olah batin akan mudah sekali membuktikan sendiri adanya hukum sebab akibat.Apa yang ia “tanam” adalah benih-benih kebaikan, maka ia akan menuai kebaikan yang berlimpah. Demikian pula sebaliknya bila “menanam benih kejahatan” maka ia akan menuai celaka.
Lain halnya dengan seseorang yang giat mengolah tenaga dalam. Tidak ada hubungannya dengan baik buruk perilaku dan moralitas pribadinya. Oleh sebab itu, ada kalanya seorang penjahat tetap mempunyai tenaga dalam yang cukup tinggi. Jadi tenaga dalam tidaklah menjadi monopoli orang-orang baik saja. Besar kecilnya TD tidak akan mempengaruhi pada baik buruknya sikap perilaku seseorang. Karena tenaga dalam atau inner-power (IP) bersifat netral. Perbedaan mencolok antarainner-power  yang masih berada di dalam raga atau tubuh fisik kita dengan olah batin  yang berada di dalam kekuatan spirit (power of spirit/POS) yang inheren dalam diri kita. POS sebenarnya jauh lebih dahsyat ketimbang TD. Kedahsyatan itu akan mudah dirasakan manakala batin kita telah sampai pada titik nol atau “duwe rasa, ora duwe rasa duwe“. Perbedaan lainnya adalah POS masuk dalam ranahngelmu kasepuhan. Sementara itu TD  masih berada dalam ranah ngelmu kanoman. Dan ilmu magictemasuk dalam ngelmu kajiman.
Untuk lebih memberikan dasar argumen sekaligus bukti faktual bahwa antara TD dengan olah batin tidak ada hubungannya satu dengan lainnya. Para pembaca yang budiman tentunya mudah menyaksikan di satu pihak ada seorang yang sangat peka batinnya, tapi ia tidak memiliki TD, sebaliknya ada beberapa orang teman memiliki TD cukup dahsyat tetapi mata batinnya tidak peka.
Mantra, rapal, doa, wiridan dalam ber-olah nafas dan olah batin.
Dalam mempelajari olah nafas atau TD, dan olah batin seringkali menggunakan rapal, mantra, doa, wiridan dan sejenisnya. Semua itu sekedar sebagai formalitas saja. Ada sisi manfaatnya yakni untuk membangkitkan  kemantaban semangat dan keseriusan pada saat berlatih. Cara yang sama boleh juga diterapkan pada saat berolah raga. Misalnya saat berlatih sprint, sepak bola, body building dll sembari mengucapkan lafad doa, wirid, mantera, puja-puji atau bisa juga sambil bernyanyi. Semua itu tujuan yang sesungguhnya untuk menumbuhkan spirit belajar. Jadi olah nafas dan kebatinan tak ada hubungannya dengan agama manapun. Semua itu merupakan teknik yang bersifat ilmiah, natural dan universal.
Melalui tulisan ini pula saya pribadi ingin meluruskan pemahaman sebagian orang yang terkadang mengkait-kaitkan antara TD dengan ajaran sesat atau bertentangan dengan doktrin agama. Jika dari kacamata agama, olah nafas atau olah tenaga dalam dianggap keliru, sebaiknya olah raga dinilai sesat dan keliru pula. Karena keduanya pada prinsipnya sama, hanya berbeda pada obyek yang diolahnya. Dan ketiga macam OLAH di atas, pada prinsipnya sama pula dengan olah-olah (Jawa : memasak). Yakni mengolah bahan mentah menjadi sajian menu yang enak dimakan dan berasa lezat.  Kita biasakan diri untuk tidak kagetan dan gumunan apalagi  anti-pati dalam merespon segala sesuatu yang  baru atau yang belum dipahami. Agar supaya ilmu pengetahuan kita mudah bertambah, dan sifat bijaksana mudah dibangun dalam diri kita masing-masing.
KESIMPULAN
Hubungan antara ketiga macam pengolahan diri, yang terdiri dari olah ragaolah nafas, dan olah batinketiganya tidak saling bergantung satu sama lainnya. Namun ketiganya tidak saling bertentangan pula. Malah bila dipadukan ketiganya akan saling mendukung dan memberikan nilai tambah yang positif. Olah nafas sebagai sarana membangkitkan tenaga dalam posisinya berada di tengah-tengah, di antara olah raga dengan olah batin. Olah nafas mencakup sebagian dari olah raga, namun dalam teknik-teknik olah pernafasan tertentu, sebagian kecil sudah berada dalam wilayah metode pengolahan batin.
Semoga bermanfaat, salam asah asih asuh

Minggu, Oktober 30

Sempat memiliki

Mengapa Kita Bertemu

Bila Akhirnya Dipisahkan

Mengapa Kita Berjumpa

Tapi Akhirnya Di Jauhkan


Kau Bilang Hatimu Aku

Nyatanya Bukan Untuk Aku


Bintang Di Langit Nan Indah

Dimanakah Cinta Yg Dulu

Masihkah Aku Disana

Di Relung Hati Dan Mimpimu


Andaikan Engkau Disini

Andaikan Tetap Denganku

Aku Hancur Ku Terluka

Namun Engkaulah Nafasku

Kau Cintaku Meski Aku

Bukan Di Benakmu Lagi

Dan Kuberuntung

Sempat Memilikimu...


Engkau Mengatakan

Merindukan Diriku Lagi

Ingin Ku Sampaikan

Ku Tak Hanya Sekedar Itu...

Powered By Blogger