Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Agustus 7

Ketika Cinta Menyapa Jiwa



Bagaimana kita menyikapi cinta, adalah tergantung bagaimana kita mensikapi diri kita sendiri. Setiap hati kita sama merasakan sakit dan bahagia, meskipun kehidupan dan cara pandang kita berbeda. JIka kamu jatuh cinta dengan seseorang dan dia mencintaimu...dan cinta menjadi bagian dari kehidupan kalian, jangan mengingkarinya atau menyalahkannya, biarkan ia mengalir. Selalu ada alasan dan makna dibalik semua itu yang pasti akan kamu ketahui suatu hari nanti. Ingat kamu tidak memilih cinta....

Cinta yang memilihmu...memilihmu dan menambatkannya pada seseorang. Yang dapat kamu lakukan adalah menerimanya, karena cinta adalah salah satu misteri dalam kehidupan. Rasakan bagaimana cinta menyentuhmu....mengisi jiwamu dengan kebaikan..dan tunjukkan juga kebaikan cinta itu sendiri dalam hidupmu. Berikan pula kebaikan pada seseorang yang membuat cinta ada diantara kalian. Binarkan juga spirit cinta pada sekitarmu..pada duniamu yang membutuhkan cinta dengan segala dimensinya...Lepaskan panah cintamu pada dunia yang carut marut, getir, pekat, dan tanpa warna.

Begitu banyak orang yang salah memaknai cinta. Begitu lama mereka hidup tanpa cinta dan ketika cinta menghampiri mereka, mereka memaknai cinta sekedar sebuah kebutuhan belaka. Mereka melihat hati mereka hanya sebagai sebuah tempat yang harus diisi. Dan mereka manganggap cinta adalah sesuatu yang yang harus mengisi hati kosong mereka...bukan mereka yang harus mengisi dan memaknai cinta...JIka demikian maka cinta akan kehilangan makna dan esensinya sebagai spirit jiwa dan warna dunia.

Cinta memiliki waktunya sendiri, masanya, musimnya dan alasannya sendiri untuk datang dan pergi...Kamu tidak bisa memaksakannya untuk tinggal dalam rumah jiwamu, atau membuatnya bertahan dalam dirimu...Kamu hanya perlu memaknai dan mengisinya dengan berjuta kebaikan ketika cinta menyentuh jiwamu. Dan ketika ia pergi..biarkan ia pergi dengan segala kebaikan didalamnya.
Tetapi...jika cinta memilih untuk tinggal dalam jiwamu dan dalam jiwa seseorang yang mencintaimu dan kamu cintai...tidak ada yang perlu kamu lakukan dan tidak ada pula yang harus kamu lakukan..kecuali menjadikan kebaikan didalam cinta itu sendiri.

Cinta telah dan akan selalu menjadi misteri...Berbahagialah jika cinta menyapa jiwamu...bagikanlah cinta dalam dirimu untuk setiap jiwa disekelilingmu..Karena cinta adalah anugrah....

"Cinta itu anugrah..maka berbahagialah...sebab kita sengsara..bila tak punya cinta....rintangan pasti datang menghadang, cobaan pasti datang menerjang..namun yakinlah cinta itu kan membuatmu..mengerti akan arti kehidupan...." (kutipan lagu dul sumbang)

Kamis, Juli 29

BERJIWA PEMENANG



Sadarilah bahwa kamu dilahirkan ke dalam dunia dengan potensi yang besar untuk menjadi seorang pemenang dalam hidup. Kamu punya seperangkat perlengkapan hidup yang sangat hebat berupa pikiran, kehendak bebas dan hati nurani. Pergunakanlah secara optimal.

Ingatlah selalu bahwa menjadi pemenang tidak berarti selalu menang, tapi tetap tenang ketika mengalami kegagalan dan tidak panik ketika mengalami kekalahan. Bagi seorang pemenang, kekalahan hanyalah sementara dan kegagalan hanyalah keberhasilan yang tertunda.

Pemenang dalam hidup adalah pribadi yang berani menghadapi kehidupan, tidak gentar menghadapi tantangan, tidak takut menghadapi kesulitan, tidak bergantung pada situasi, dan tidak dikalahkan oleh hal-hal negatif

Jadikan orang lain sebagai motivator, guru dan cermin yang baik. Belajarlah dari keberhasilan dan kegagalan mereka. Jangan sombong kalau kamu lebih hebat dalam beberapa bidang dibandingkan dengan orang lain, dan jangan berkecil hati kalau kamu tidak segelimang mereka dalam bidang lainnya.

Beranilah mengambil risiko, karena banyak hal berharga dalam hidup ini yang harus diraih dengan keberanian. Kalau semua faktor sudah diperhitungkan, lakukanlah apapun yang dapat meningkatkan kualitas hidupmu.

Berpikirlah sebagai seorang pemenang. Pikiran adalah potensi dan kekuatanmu yang bisa membangun dan merusak hidupmu tergantung bagaimana kamu mengarahkannya. Arahkanlah selalu pikiranmu untuk memikirkan hal-hal yang mulia, yang benar, yang adil, yang penting dan yang membahagiakan.

Berkatalah sebagai seorang pemenang. Jadikan kata-kata positifmu sebagai alat untuk memperkat jiwamu, bukan untuk melemahkan. Lebih baik kamu berjkata “Aku akan segera sembuh” daripada “Aku sudah bosan berobat tapi tidak ada hasil”. Atau, “Kalau hari ini aku tidak beruntung, masih ada hari esok” lebih baik daripada “Aku memang sedang sial hari ini!”

Bersikaplah sebagai seorang pemenang. Seorang pemenang akan bersikap aktif dan tidak pasif, rajin dan tidak malas, ulet dan tidak mudah menyerah, jujur dan tidak bohong. Bila setiap hari kamu bertindak sebagai pemenang, kamu betul-betah melatih otot-otot jiwa menjdi otot seorang pemenang. Jangan biarkan jiwamu menjadi lemah sehingga kamu selalu mengalami kekalahan. Berusahalah terus untuk mengembangkan sifat-sifat seorang pemenang, seperti rendah hati, berani, berjiwa besar, tekun, dsb. Hindari sifat-sifat pengecut seperti menyalahkan orang lain, egois, iri hati, sombong, mencari perhatian, dsb.

Bertekunlah untuk meraih apa yang kamu inginkan. Jangan mudah kecewa dan putus asa ketika menghadapi hambatan. Jangan menyerah dalam keadaan apapun. Orang-orang besar sepanjang sejarah telah membuktikan bahwa banyak hal yang sulit dan tampak tidak mungkin didobrak oleh ketekunan.

Hargailah dirimu. Perhatikan sikap, ucapan dan penampilanmu. Hanya setelah kamu bisa menghargai diri sendiri, kamu akan bisa menghargai orang lain. Dan ketika kamu menghargai orang lain, mereka pun akan menghargaimu.

Berusahalah untuk mengendalikan dirimu. Jadilah pemenang atas diri sendiri, maka kamu akan lebih mudah menjadi pemenang dalam lingkup yang lebih luas. Sebagai contoh, jujurlah pada diri sendiri, kendalikanlah emosi, bersikaplah tenang, dan berdisiplinlah.

Beranilah mengalah untuk menang. Seorang pemenang tidak akan ngotot memenangkan perdebatan dan pertengkaran. Hanya orang berjiwa pengecut yang ingin memuaskan harga dirinya dengan kemenangan yang semu.

Beranilah untuk berubah. Hidup yang berkemenangan ditandai dengan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik, lebih menyenangkan dan lebih berhasil. Jangan mengharapkan situasi atau orang lain yang akan mengubah hidupmu. Kamu sendiri yang bertanggung jawab memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidupmu.

Bergembiralah atas setiap kemenangan yang kamu raih. Ketika kamu berhasil melakukan apa yang sudah kamu rencanakan, ketika kamu berhasil mendisiplin diri, ketika kamu berhasil menyelesaikan konflik dengan baik, ketika kamu tidak lagi membohongi orang lain, dsb. Teruskanlah usahamu untuk menjadi pemenang dan nikmatilah banyak kejutan menyenangkan sepanjang hidupmu.

Kamis, Juli 22

Maksud Allah Siapa Yang Tahu..


Pada satu zaman ada seorang raja yang amat zalim. Hampir setiap orang pernah merasakan kezaliman nya itu. Pada suatu ketika, raja zalim ini tertimpa penyakit yang sangat berat. Maka seluruh tabib yang ada pada kerajaan itu dikumpulkan. Di bawah ancaman pedang, mereka disuruh untuk menyembuhkannya. Namun sayangnya tidak ada satu tabib pun yang mampu menyembuhkannya.

Hingga akhirnya ada seorang rahib yang mengatakan bahawa penyakit sang raja itu hanya dapat disembuhkan dengan memakan sejenis ikan, yang sayangnya saat ini bukanlah musimnya ikan itu muncul ke permukaan. Betapa gembiranya raja mendengar khabar ini.Meskipun raja menyedari bahwa saat ini bukanlah musim ikan itu muncul ke permukaan namun disuruhnya juga semua orang untuk mencari ikan itu.

Aneh bin ajaib ... walaupun belum musimnya, ternyata ikan itu sangatlah mudah ditemukan.Sehingga akhirnya sembuhlah raja itu dari penyakitnya.

Di lain waktu dan tempat, ada seorang raja yang amat terkenal kebijaksanaannya. Ia sangat dicintai oleh rakyatnya.

Pada suatu ketika, raja yang bijaksana itu jatuh sakit. Ternyata kesimpulan para tabib sama,iaitu ubatnya adalah sejenis ikan tertentu yang saat ini sangat banyak terdapat di permukaan laut. Kerana itu mereka sangat optimis rajanya akan segera pulih kembali.

Tapi apa yang terjadi? Ikan-ikan yang seharusnya banyak dijumpai di permukaan laut itu, tidak ada satu pun yang nampak. Walaupun pihak kerajaan telah mengirimkan para ahli selamnya, tetap saja ikan itu tidak berhasil diketemukan. Sehingga akhirnya raja yang bijaksana itu pun mangkat.

Dikisahkan para malaikat pun kebingungan dengan kejadian itu. Akhirnya mereka menghadap Tuhan dan bertanya, "Ya Tuhan kami, apa sebabnya Engkau mengirim ikan-ikan itu ke permukaan sehingga raja
yang zalim itu selamat, sementara pada waktu raja yang bijaksana itu sakit, Engkau menyembunyikan ikan-ikan itu ke dasar laut sehingga akhirnya raja yang baik itu meninggal?"

Tuhan pun berfirman ,"Wahai para malaikat-Ku,sesungguhnya raja yang zalim itu pernah berbuat suatu kebaikan. Kerana itu Aku balas kebaikannya itu, sehingga pada waktu dia datang menghadap-Ku,tidak ada lagi kebaikan sedikitpun yang dibawanya. Dan Aku akan tempatkan ia pada neraka yang paling bawah!" Sementara raja yang baik itu pernah berbuat salah kepada-Ku, kerana itu Aku hukum dia dengan menyembunyikan ikan-ikan itu, sehingga nanti dia akan datang menghadap-Ku dengan seluruh kebaikannya tanpa ada sedikit pun dosa padanya, kerana hukuman atas dosanya telah Ku tunaikan seluruhnya di dunia!"

Kita dapat mengambil beberapa pelajaran dari kisah ini.

Pelajaran pertama adalah:

Ada kesalahan yang hukuman nya langsung ditunaikan Allah di dunia ini juga, sehingga dengan demikian di akhirat nanti dosa itu tidak diperhitungkan-Nya lagi. Keyakinan hal ini dapat menguatkan i man kita
apabila sedang tertimpa musibah.

Pelajaran kedua adalah:

Apabila kita tidak pernah tertimpa musibah, jangan terlena. Jangan-jangan Allah menghabiskan tabungan kebaikan kita. Keyakinan akan hal ini dapat menjaga kita untuk tidak terbuai dengan lazatnya
kenikmatan duniawi sehingga melupakan urusan ukhrowi.

Pelajaran ketiga adalah:

Musibah yang menimpa seseorang belum tentu kerana orang itu telah berbuat keburukan. Keyakinan ini akan dapat mencegah kita untuk tidak berprasangka buruk menyalahkannya, justeru yang timbul adalah
keinginan untuk membantu meringankan penderitaannya.

Pelajaran keempat adalah:

Siapa yang tahu maksud Allah? Wallahua'lam bissawab.Sesungguhnya DIAlah yang Maha Mengetahui akan segala ketetapan yg telah ditentukan buat kita, hambaNYA. Oleh itu jgn sesekali berdendam
sesama insan, marah atau mengesali segala dugaan yg dtg menjengah di sepanjang perjalanan hidup kita untuk menemuiNYA. Allah itu Maha Pengampun, Pengasih serta Pemurah.. maka carilah keredhaanNYA agar
hidup kita bahagia hingga ke akhir usia di dunia, seterusnya bahagia di akhirat kelak.

Kamis, Juli 15

Anak Itu Aku

Alhamdulillah,akhirnya Tuhan mengabulkan Do'aku.Trimakasih bunda telah mendo'akanku selalu,Keluarga yang sangat aku cintai,senyum tawamu memecahkan kerinduanku.Seorang anak yang bertahun-tahun tidak pernah bertemu dengan keluarganya.Seorang anak yang sangat mendambakan belaian kasih sayang dari ibu tercintanya.Sejuta kasih yang tersimpan dalam,dan mungkin akan menjadi genangan samudera jika telah meluap nanti..Di pisahkan oleh niat suci untuk mencapai sebuah cita-cita yang terukir dalam.Perjuangan ini memang berat.

Suatu hari,di sudut kamarnya ,ibu tengah memeluk guling lusuh yang di belinya semasa gadis dulu..Dengan perlahan aku mulai mendekatinya,wajahnya yang penuh lekukan tanda keriput memberikan ketenangan tersenderi bagiku,sinar matanya yang meredup mampu membuat hatiku trenyuh tergetar,dan jari-jari tangannya yang mulai rapuh membelaiku dengan mesra,seolah sentuhan yang tiada pernah akan terlupakan..Senyumnya,menyiratkan rasa cinta yang sangat mendalam. "Sesungguhnya setiap anak lelaki itu pasti akan pergi meninggalkan ibunya jika dia telah dewasa.Entah untuk mencari ilmu,mencari materi,atau pun mencari tambatan hati.Dia akan terpisah dari keluarganya untuk beberapa lama,bisa 1 tahun,2 tahun,3 tahun atau bahkan selamanya dia tiada kembali lagi.Entah karena lupa atau karena memang tidak ingin lagi bertemu dengan ibunya yang sudah tua,jelek,sakit-sakitan pula.Karena,sering kali materi mampu membuat seseorang tega memakan darah keluarganya sendiri."ibu berucap sambil terus membelaiku,ia pun menidurkanku di pangkuannya.Bulir-bulir air matanya mengalir lembut membasahi tubuhku.
"ibu,aku mencintaimu"ucapku sembari memeluk erat tubuhnya.Aku berharap bisa meredam kesedihan ibuku.Entahlah kenapa ibu bersedih seperti itu,seolah ia telah kehilangan anak lelakinya.Padahal aku adalah satu-satunya anak ibu.

"Cinta,begitu banyak orang mengucapkan kata itu hanya dibibirnya saja.Sedang pada kenyataannya mereka tak mampu untuk membuktikannya.Apakah cinta cukup di bibir saja.Yang namanya cinta itu,ya harus berani berkorban dan bertaruha untuk sesuatu yang di cintainya.Bukan bilang cinta,tetapi setelah berbadan dua di tinggal begitu saja.Padahal dulu mereka melakukannya suka-sama suka,katanya sehidup semati,yang satu mati,satunya nikah lagi.Apakah itu yang namanya cinta?tidak nak,itu hanya sebuah ucapan kepalsuan saja.".Ibu mulai bergerak membenarkan ikatan rambutnya yang melilit kuat sehingga membuatnya merasa pening.

''Tapi aku benar-benar mencintai ibu,dan aku mencintai ibu tidak seperti orang lain.Aku pun akan selalu ada di samping ibu.Aku akan merawat ibu dalam segala kondisi"
"Dan aku pun sangat berharap,kau akan menjadi anak yang benar-benar menyayangiku,karena bisa jadi suatu hari aku akan merepotkanmu.Mungkin aku akan menjadi pikun,sehingga aku banyak lupa,mungkin juga aku akan sakit-sakitan,parah,dan membuat harta kekayaanmu semakin berkurang,aku pun mungkin akan menjadi sangat cerewet,minta ini itu,membuat pusing kau dan anak istrimu.Dan bisa jadi jika istrimu tak sabar menghadapiku,kalian akan bertengkar.Karena bisa jadi,hari tuaku nanti akan di jadikan ujian kesabaran oleh Sang Pencipta..Dan aku berharap semua itu tidak terjadi."Ibu memandangku penuh kecemasan,aku menangkap sinyal kalau ibu tak pernah yakin dengan ucapan cinta dariku.Rasa takut menyergapnya dari segala sisi..
"Ibu adalah wanita yang kuat,aku yakin hari tua ibu tak akan seperti itu.Ibu adalah wanita yang sangat menyayangi anaknya.Ibu mampu membesarkanku walau tanpa seorang ayah.Itu sudah menjadi bukti kalau ibu adalah wanita yang hebat."
"Itu bukan hebat nak,tapi itu adalah sebuah keterpaksaan,seandainya bisa aku pun tak ingin membesarkanmu sendirian,seandainya bisa,aku tak perlu membanting tulang sendirian untuk menghidupimu,seandainya semua ini bisa di cegah,aku ingin menjadi seorang istri yang sah.Bukan seorang ibu tanpa seorang suami."Ibu kembali menangis setelah tadi ku lihat dia sibuk mendandani rambutnya.Aku merasa angat menyesal,aku telah mengingatkan ibu pada masa lalunya yang memang sengaja dia sembunyikan dariku.Aku memang tak pernah tau tengtang ayahku,karena ibu menyuruhku untuk tdak pernah menanyakan keberadaannya.Ibu selalu bilang kalau aku terlahir karena rasa cinta yang tersalah.Rasa cinta palsu yang hanya di dasari nafsu belaka.
"jAngan pernah tinggalkan aku nak.Sekalipun nanti kau menikah,jadikanlah aku sebagai anggota keluargamu.Satu-satunya harta yang ibu miliki hanya kamu.Keluarga ibu menghilang seiring dengan besarnya dosa yang ibumu ini lakukan.Dan jangan pernah jauhi ibu,jika suatu hari ibu benar-benar menyusahkanmu nak."Ibu memelukku dengan sangat erat,seolah itu adalah pelukannya yang terakhir.Ia pun menciumiku berkali-kali,tangannya begitu erat.
"Tapi hari ini,aku harus meninggal kan ibu untuk mencapai cita-citaku ibu,Beasiswa ke jakarta ini harus aku ambil.Suatu hari aku ingin melihat ibu bangga padaku."
"Aku sangat takut kehilanganmu nak,berjanjilah kau akan sering-sering mengirim surat untuk ibumu ini" "aku janji bu,aku akan selalu merindukanmu ibu
Masa itu tiba-tiba kembali hadir dalam memoriku,setelah sekian lama menghilang dari benakku.Dan mungkin benar,aku lah anak lelaki yang durhaka itu.Oh ibu.....,maafkan aku ibu.
Hari itu hari senin,gerimis membasahi jalanan.Ibu datang kerumahku,dia memintaku untuk mengantarkannya ke dokter.Sedang hari itu aku sangat sibuk,aku meminta istriku untuk mengantarnya.Tapi ibu tidak mau,dia ingin aku sendiri yang mengantarnya dengan nada keras aku membentaknya.Dan itu pertama kalinya aku membentak ibuku.
"aku sibuk........kalau kau mau,sama Ana Saja.tapi kalau tidak ya sudah"bentakku saat itu. "sibuk kah nak,apa jabatan ini lebih penting dari pada ibu mu ini.Padahal aku tak pernah memintamu menemaniku pergi kecuali hari ini.Dan mungkin ini juga terakhir kali aku meminta kau menemaniku"ibu berucap sembari beranjak menjauhiku.
"Ya,bertahun-tahun aku bekerja untuk meraih jabatan ini bu...sudahlah,sekarang aku di tunggu klien..Besok saja kalau ada waktu"ucapku meninggalkanya menangis di depan pintu.Ana hanya diam menyaksikan semua itu.Dan ternyata,itulah terakhir kali aku melihat wajah ibu.Sejam setelah aku tiba di kantor,istriku menelephonku,dia bilang ibu pingsan,dia melarikannya kerumah sakit,karena ibu tidak bangun meskipun di beri minyak angin,dan ternyata......ibu mengidap penyakit tumor payudara yang sudah ganas....ibu tidak pernah menceritakannya padaku,dia benar-benar memendam sgala kepedihannya sendirian.Seandainya aku tau itu adalah saat terakhir aku harus menemani ibu,aku pastikan aku kan menemani ibu tanpa meninggalkannya sedetikpun.Tapi sayang semua telah terlanjur,semoga saja ibu tidak pernah merasa ke hilangan anak lelakinya yang sebenaranya sangat mencintainya.

Bunda Tanpa Keluhan


Pernahkah kita mencoba mengingat akan masa lalu………..????
Sembilan bulan kita hidup dalam kandungan sang bunda………………………
Bunda selalu membawa kita kemanapun ia pergi……………………………..
Tak pernah ia berfikir untuk menanggalkan kita walau sejenak……………
Lalu kita pun lahir dengan tangis pertama kita menyapa dunia ini…………………

Bunda pun selalu ikhlas merawat kita dengan penuh kasih sayang…………………….
Kadang kita telah begitu saja mengambil waktu istirahatnya dengan tangis kita di malam hari……mengganti popok kita yang basah, memberikan kita air susu ketika kita lapar………….

Dan kita hanya bisa menangis saja ketika itu……………………
Kita selalu diayun, dipangku dan ditimang-timang
Lalu apa balasan kita waktu itu………..????
Kita sering membuat basah baju bunda dengan air kencing kita……………
Dan Bunda tak pernah sekalipun memarahi kita………………………………
Usia kitapun beranjak perlahan……………………

Ingatkah ketika hari pertama kita masuk sekolah……???
Setiap pagi……Bunda selalu memandikan kita,……………menyuapi kita………mengantar kita dan menunggui kita………………………….
Bunda begitu sabar mengiringi hari kita di sekolah……………
Dan kita hanya bermain ketika itu……………….

Lalu ketika kita beranjak remaja……………………….
Bundapun tak henti untuk menghawatirkan kita………………
Ketika kita sering pulang terlambat dengan berbagai alasaan…………….
Bunda hanya menatap dengan penuh cemas………………………………
Padahal mungkin kita hanya bersenang-senang di luar sana……………………………
Ingatkah kita pada saat hari raya idul fitri………
Sering bunda membelikan kita baju, sepatu, celana baru………
Dengan harapan kita akan merasa senang……………………
Ingatkah pula apa kata kita ketika itu………..
“Ah……….bajunya udah kuno gak mau ah……”………bunda ‘nggak tau selera anak muda…..
dan bunda hanya tersenyum saja………….

Saat kita mengenal cinta akan sesama………………………………
Sering kita membohongi bunda hanya untuk bercinta semata…………………
Dan bundapun tak pernah lepaskan kasih sayangnya untuk kita………………………..
Ketika bunda bilang………”Nak…….mestinya kamu sekolah dulu yang benar……….jangan dulu berpacaran……….””…………
Lantas kita hanya menjawab…………..”bu………saya udah gede………..saya tau apa yg baik buat saya……..ibu jangan terlalu mengatur saya dong……….”
Bunda hanya tersenyum dan menatap kita dengan penuh kasih sayang………..

Apakah kita ingat saat kita memasuki bangku kuliah…………….
Bunda dengan penuh semangat memberikan biaya kuliah kita yang setinggi langit………….
Lalu mungkin kita juga hanya bersenang-senang saja dengan dunia yang sedikit beranjak dewasa……………………..

Ketika kita butuh uang utk menuntaskan hasrat cinta muda kita……
Sekali lagi kita sering membohongi bunda……………………
dengan mengatakan….”bu……saya butuh uang….untuk biaya praktikum……kira-kira….sekian juta…………..”
Lalu bunda bilang………….”nak……….apa tidak bisa di cicil…??
Kita dengan segera menjawab…..”gak bisa bu….harus sekali bayar………..”
Kita tak pernah tahu apa yang ada di benak bunda ketika itu……
Jika saja bunda tahu bahwa itu hanyalah alasan kita semata…..karena mungkin saja yang sebenarnya adalah kita butuh uang untuk mentraktir atau menyenangkan pacar tersayang saja…………
Dan ternyata bunda selalu saja menyayangi dan berusaha mempercayai kita……………

Pada saat kita lulus kuliah……………
Kita mungkin bisa melihat betapa bangganya bunda mendapati anaknya sudah menjadi seorang sarjana menangis penuh haru bahagia bunda ketika itu………

Lalu tak lama setelah itu………tiba-tiba….
“Bu….sekarang saya sudah dewasa……saya ingin menikahi si anu……….karena saya mencintai dia………boleh kan bu……..?”…
Mungkin bunda akan bilang……”Nak mustinya kamu mencari kerja dulu, lalu setelah sedikit mapan mungkin kamu bisa menikah…….”
Lalu apa jawab kita……..”Bu………….kalo ibu percaya……….saya sanggup untuk memberikan makan dia tanpa ibu kasih………saya harap ibu tidak melarang niat saya untuk menikah sekarang……….saya sudah dewasa bu…bukan anak kecil yang segalanya harus ibu perhatikan……………….”
Dan demi kasih sayangnya terhadap kita……….maka bundapun sekali lagi meluluskan keinginan kita……sekaligus memberikan kita sedikit bekal untuk mengarungi biduk rumah tangga kita nanti………………

Tak berapa lama setelah itu……..kitapun merasa sanggup untuk hidup terpisah dari beliau….maka sekali lagi kita merajuk pada bunda……………..
Pada saat bunda sudah memasuki hari tuanya……………kita pun meninggalkan dia dalam hari-hari senjanya………….
Dan bunda tak pernah meminta kita untuk menemaninya karena bunda pikir anaknya sudah mempunyai kehidupan sendiri…..

Bertahun-tahun kita meninggalkan bunda,…….dan mungkin hanya setahun sekali saja kita menengok dia………itupun pada saat Hari Raya saja………………
Lalu………………..ketika Bunda sakit di hari tuanya………
Mungkin bunda mengharapkan kasih sayang anaknya bisa sedikit menghibur dia………
Tapi………..sering kita mengabaikan harapan bunda……
Kita mungkin merasa direpotkan hanya dengan mengurusi seorang wanita tua yang sudah tak berdaya itu…………….

Lalu pada saat Allah hendak menjemput dia…………kita mungkin sedang tenggelam dalam kehidupan yang sudah menyita sebagian hati nurani kita………………
Hingga satu hari terdengar bunyi dering telepon yang memberikan kabar bahwa bunda telah tiada………………

Dan aku tak berani bilang bahwa mungkin saja hati kita sudah bebal dan telinga kita sudah tuli akan kenyataan ini………
Ada sesal mungkin di sana……….sesal yang tak akan terbalas dengan sejuta tetesan air mata kita………
Dan kitapun hanya meratapi kepergian bunda,…..ya bunda yang sudah mencetak kita dengan segenap kasih sayang bunda yang tak terperi ketulusannya……….sesal yang tiada guna ketika kita tahu bunda pergi bersama setitik harapan bunda bahwa dia ingin anaknya ada ketika hembusan nafasnya yang terakhir memutuskan kehidupannya……
Dan kita hanya terpekur menatap bekunya batu nisan bertahtakan nama bunda……
Itupun jika masih ada secuil nurani kita yang masih berwarna putih……………

Kutuliskan ini………untuk mengenang bahwa bunda adalah pembawa syurga buat anaknya………, mungkin ini tak semua benar……..tapi tak mustahil ini terjadi dan ada di dunia ini………

Bunda……….aku menyayangi bunda seperti aku menyayangi syurgaNYA……………

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya. “Ibu, mengapa Ibu menangis?”.
Ibunya menjawab, “Sebab, Ibu adalah seorang wanita, Nak”.
“Aku tak mengerti” kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat.
“Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti….”
Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. “Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?”
Sang ayah menjawab, “Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan”…………Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.

Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya- tanya, mengapa wanita menangis
Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan. “Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?”
Dalam mimpinya, Tuhan menjawab, “Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama. Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.
Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu.
Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.
Pada wanita, Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.
Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya.
Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.
Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa- masa sulit, dan menjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak?
Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.
Dan, akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan”.
Maka, dekatkanlah diri kita pada sang Ibu kalau beliau masih hidup, berbaktilah, selagi masih ada waktu…..karena di kakinyalah kita menemukan surga.

Materialisme & Hedonisme Melanda Kita

Assalamu’alaikum Wr. Wb.


Dalam Era globalisasi dewasa ini yang ditandai dengan semakin ketatnya persaingan di segala bidang, merupakan suatu realitas yang tak dapat dipungkiri dan tak mungkin dihindari oleh setiap orang yang hidup di zaman ini. Kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi, lebih-lebih media elektronik telah menawarkan suatu gagasan baru ke seluruh dunia tanpa memperhitungkan dampak-dampak negatif yang dapat ditimbulkannya terhadap norma agama dan akhlaq manusia.

Promosi bertubi-tubi yang dilancarkan oleh berbagai media massa telah menawarkan kenikmatan hidup dengan gaya modern, konsumtif dan jet-set (mewah). Gaya hidup yang dituntut dan dikejar oleh hampir setiap orang sebagai pelaku kehidupan modern adalah kehidupan yang bebas tanpa batas, baik batas etika kesopanan, moral maupun akhlaq. Roda kehidupan yang dipacu dengan akselerasi tinggi hingga menjadi cepat panas, disamping juga ketatnya dunia kompetisi, khususnya di bidang ekonomi dan prinsip-prinsip pemenuhan kebutuhan serta keinginan manusia, telah memaksa manusia kini tidak lagi berperilaku dan bertindak manusiawi tetapi dengan semau gue (seenaknya sendiri).

Bagi banyak orang, mencari rizki yang halalan toyyiban (halal dan baik) nyaris dianggap suatu pekerjaan yang sia-sia. Adanya peluang untuk korupsi, kolusi, manipulasi dan sejenisnya yang berseliweran di depan hidung, benar-benar membuat mata mereka menjadi “silau”. Rangsangan manipulasi dan kolusi itu menjadi “klop” manakala kita melihat keadaan ekonomi yang semakin sulit akhir-akhir ini. Susahnya mencari pekerjaan, harga barang-barang kebutuhan yang terus melambung serta gaya hidup yang semakin men-jetset hingga membuat kebanyakan manusia jadi lupa diri, tabrak sana tabrak sini tanpa memperdulikan norma agama, yang penting fulus (uang) bisa didapat dengan mudah walupun harus dengan cara yang kotor dan keji.

Keadaan seperti ini sesuai dengan apa yang telah disyairkan oleh seorang penyair muda di Zaman Jahiliyah dahulu yang bernama Thorofah bin Al-’Abdi : “‘Pabila anda tak dapat memuaskan keinginanku, biarlah aku memenuhinya dengan seenakku sendiri, orang akan memuaskan nafsunya selama hidup. Setelah mati nanti anda akan tahu bahwa kita semua haus !”. Manusia yang menyatakan dirinya “modern” pastilah menjadi pengikut aliran ini walaupun tidak dengan terang-terangan memproklamirkan dirinya, kecuali orang-orang yang diperliharakan Allah dari padanya.

Mengenai hal ini, Rasulullah SAW pernah bersabda :
“Sesungguhnya bagi setiap ummat ada ujiannya, dan ujian bagi ummatku ialah harta kekayaan”. (H.R. Tarmizi)
“Demi Allah, bukanlah kekafiran dan kemiskinan yang aku khawatirkan atas kamu, tetapi justru aku khawatir kemewahan dunia yang kamu dapatkan sebagaimana telah diberikan kepada orang-orang sebelum kamu, lalu kamu bergelimang dalam kemewahan itu sehingga binasa, sebagaimana mereka bergelimang dan binasa pula”. (H.R. Tarmizi)

Apabila diingatkan, baik dengan teguran-teguran religi yang tersirat maupun yang tersurat, sungguh yang keluar dari bibir mereka adalah kata-kata apologi (pembelaan) “Jangankan cari rejeki yang halal, yang haram saja susah !”, begitu sering dilontarkan. Hidup dinilai hanya untuk saat ini saja, mereka tidak lagi dilhami oleh kehidupan masa depan yang bersifat ukhrowi nan kekal dan abadi. Orang-orang itu hanya menghargai kekayaan dan kemewahan dengan segala yang berhubungan dengan kehinaan dan kerendahan moral. Mereka akan mencela orang yang tidak ikut berkecimpung dalam perebutan materi tersebut betapapun orang itu baik budi dan berwatak mulia.

Salah seorang penyair Arab di Zaman Jahiliyah pernah berkata : “DikutukTuhan seorang budak yang cita-cita dan tujuan hidupnya hanya untuk mencari sandang dan pangan saja”. Bagaimana kiranya (kita tak bisa membayangkan) sendainya penyair tersebut masih hidup sampai sekarang ini, dimana ia melihat terlalu banyaknya orang-orang yang berlomba dan berjibaku untuk tidak hanya memenuhi sekedar sandang pangan saja tetapi lebih memenuhi kebutuhan “kemewahan dunia” walaupun dengan cara yang menjijikan dan keji.

Adalah seorang sarjana yang bekerja pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud), ia seorang yang pintar dan mempunyai talenta dalam dunia ilmu dan penelitian ilmiah serta telah banyak menulis di majalah-majalah ilmiah populer. Namun akhirnya ia pindah ke Departemen Penerangan dan bekerja sebagai penyiar. Ketika ditanyakan apa sebabnya ia mengubah haluan, maka dijawab : “Karena pekerjaan yang baru menjanjikan gaji yang lebih besar…”.

Ironisnya, seorang ustadz yang sangat dikagumi dan telah berhasil menyusun buku “Tasawuf Islam” sehingga memperoleh penghargaan dari Para ‘Alim ‘Ulama terkemuka. Tapi tiba-tiba ia pindah ke Departemen Luar Negeri dan menjadi interpreter (penerjemah) bahasa Arab demi mengejar tambahan gaji yang lebih besar.

Ini semua mengindikasikan bahwa materi berada di atas segala-galanya dan telah menjadi sesuatu yang menentukan tujuan hidup sehingga mempengaruhi cara berpikir dan bertindak secara total, bukan lagi sebagai sarana dan alat untuk mencapai tujuan hidup tersebut.

Bila kemaksiatan sudah menjadi suatu kebiasaan (bahkan sudah menjadi suatu kenikmatan), apalagi kalau bukan apologi (pembelaan) dan legitimasi (pembenaran) yang menjadi andalan. Sederet kata-kata yang menjijikan pun akan meluncur dengan deras dan fasih-nya dari bibir mereka yang secara otomatis menjadi pandai bertutur bak tukang obat kaki lima di pinggir jalan. “Saya ‘kan hanya menerima pemberian orang…Lagi pula saya tidak memaksa khok…! Yah..,saya kan cuma sedikit, lihat tuh babe-babe kita dapatnya lebih banyak”. Dan ketika diingatkan, itu salah dan haram dengan dalil : “Orang yang menyogok dan yang disogok, dua-duanya masuk Neraka”. Mereka menjawab lagi :”Tapi saya berbuat demikian ‘kan untuk menafkahkan anak-isteri …, bukankah menafkahkan keluarga juga termasuk amal soleh ?”.

Naudzubillah min dzalik !!!
Begitulah manusia yang telah diserang penyakit Hubbud Dunya (Cinta Dunia), mula-mula hanya ikut menikmati, makin lama makin menjadi, pada akhirnya menjadi ideologi yang akan dibela sampai mati. Mereka hanya berorientasi kepada uang, peluang, dan senang-senang. Inilah sekelumit gaya hidup hedonisme (hanya mencari kesenangan duniawi saja) dan materialisme (hanya mementingkan materi semata) yang tengah melanda masyarakat kita dan orang-orang yang hidup di akhir abad ke-20 ini. Maka bila hal ini tidak disadari dan diwaspadai akan menjerumuskan masyarakat kepada masyarakat yang Dehumanis, Apatis dan Hedonis.

Manusia seperti itulah yang diejek oleh Allah SWT dalam Firmannya :
“Dan kalau Kami kehendaki, sesungguhnya Kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya adalah seperti anjing. Jika kamu menghalaunya, diulurkannya lidahnya, dan jika kamu membiarkannya, maka diulurkan juga lidahnya. Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kepada mereka kisah-kisah itu agar mereka berfikir”. (QS. Al-A’raaf :176)

Mereka menganggap kemanusiaan adalah suatu komoditi yang tak diperlukan lagi. Mereka berteriak-teriak : “Jangan pikirkan hari esok, hidup cuma untuk hari ini, jangan perdulikan orang lain, yang penting perkuat diri. Jadikan dirimu populer meskipun dirimu bodoh dan biarkan mereka berduyun-duyun bersimpuh dalam tali sepatu kekayaan dan kekuasaanmu”. Itulah gaya hidup para wajah dunia materialistik.
Mereka mengingkari hari akhirat, sebagaimana disinyalir dalam Al-qur’an :

“Dan mereka berkata : “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup tidak ada yang membinasakan kita selain waktu”, dan mereka sekali-kali tidak tidak mengetahui pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS : 45:24)

Seorang Muslim sepatutnya menjadi manusia-manusia yang diperhitungkan, baik kualitasnya, profesionalismenya, maupun ketajaman akal-budi dan rohaninya, bukan yang diperhitungkan karena seringnya membuat kerusakan dan keonaran di mana-mana.

Kekayaan dan kekuasaan penting bagi Seorang Muslim, lebih dikarenakan untuk membiayai dan mendukung Jihad Fi Sabilllah (Berjuang di Jalan Allah) dan menjadi senjata untuk menundukkan kejahiliyiahan, bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan tetapi lebih untuk kepentingan dan Kemaslahatan seluruh ummat Islam di manapun berada. Karena antara seorang muslim dengan muslim yang lain adalah bersudara. Seorang muslim harus tampil sebagai sosok figur yang terbaik dalam segala sudut kehidupan (Kuntum Khairu Ummah).

Akhirul Qalam…, penulis berwasiat kepada diri sendiri dan para pembaca Semoga kita semua terhindar dan dijauhkan dari hal-hal serta sifat-sifat tersebut di atas, begitu juga keturunan kita, sanak dan saudara serta kerabat dekat kita. Amiieeen…

Wabillahi Taufik Wal Hidayah, Wassalamulaikum

Dunia Atau Akhirat

Assalamualaikum Wr.Wb.


Di antara hal yang tidak diragukan lagi karena memang terjadi adalah bahwa setiap ayah mendambakan anak sebagai buah hati bisa sukses dan berhasil dalam pendidikan dan sekolahnya serta kehidupannya. Karenanya, ayah senantiasa berdo’a kepada Allah agar memberikan kemudahan dan keteguhan bagi anak tercinta. Ayah menjanjikan hadiah dan mengabulkan keinginan si buah hati jika lulus dalam ujian dan memberikan ancaman serta marah jika sampai gagal dalam ujian. Perasaan seperti ini memang merupakan fitrah manusia dan memang terjadi di antara kita.

Akan tetapi wahai Ayah yang penyayang, apakah perhatianmu kepada si buah hati berupa perhatian penuh terhadap sekolah, pendidikan, masa depan dan urusan dunianya itu -karena memang engkau sadar itu adalah kewajibanmu- sama seperti perhatianmu terhadap akhirat mereka? Apakah engkau benar-benar memikirkan dan mengkhawatirkan nasib mereka setelah mati seperti halnya perhatianmu akan kenyamanan dan kebahagiaan hidup mereka sewaktu di dunia? Inilah tanggung jawabmu wahai Ayah. Engkau curahkan semuanya untuk dunia yang fana sementara engkau abaikan akhirat yang kekal selamanya. Engkau sibuk memikirkan kehidupan mereka tapi engkau lupakan keadaan setelah matinya. Engkau bangun bagi mereka rumah dari tanah, batu dan bata di dunia tapi engkau haramkan mereka untuk mendapatkan rumah di akhirat yang indah bertatahkan intan permata.

Itulah keinginanmu! Itulah angan-anganmu! Semuanya tidak lebih dari agar anak-anakmu bisa jadi dokter, insinyur, pilot ataupun tentara. Ya Allah! Semuanya itu hanya cita-cita dunia…..! Engkau berusaha, bekerja membanting tulang dan bersungguh-sungguh hanya untuk dunianya… Mana usahamu untuk akhiratnya wahai Ayah……? Fenomena ini bukanlah sesuatu yang jarang terjadi, bahkan mayoritas manusia demikian adanya. Mereka begitu serius berusaha mempersiapkan segala sesuatunya untuk pendidikan fisik anak-anaknya. Tetapi mereka menelantarkan pendidikan hatinya yang padahal dengannyalah anak-anaknya bisa hidup dan bahagia atau sebaliknya binasa dan sengsara. Inilah kenyataan!

Ayah! Mungkin engkau mengira bahwa ini hanyalah perkataan yang tiada beralasan. Tapi jika engkau ingin bukti maka simaklah wahai Ayah yang penyayang!

Bayangkan atau anggap anakmu terlambat mengikuti ujian di sekolahnya. Apakah yang engkau rasakan wahai Ayah? Bukankah engkau akan berlomba dengan waktu mengantarkan anakmu agar bisa mengikuti ujian meskipun terlambat? Bahkan sebelumnya, bukankah engkau akan rela untuk tidur setengah mata agar bisa membangunkan si buah hati supaya tidak terlambat? Bukankah engkau akan melakukan segalanya agar anak tercinta yang menjadi kebanggaanmu bisa ikut ujian tepat waktu? Saya yakin jawabannya adalah Ya. Bukankah engkau melakukan semua itu wahai Ayah? Akuilah!!

Sekarang, apakah perasaanmu itu sama atau akan muncul juga ketika anakmu terlambat shalat Shubuh? Apakah engkau akan berusaha agar anakmu shalat Shubuh tepat waktu? Saya hanya berprasangka baik bahwa engkau memang shalat Shubuh tepat waktu. Karena jika tidak, bagaimana mungkin engkau akan membangunkan anak-anakmu sementara engkau sendiri terlambat untuk itu?

Kemudian, bukankah engkau setiap hari senantiasa bertanya kepada anakmu tentang sekolahnya? Apa yang dipelajari, apa yang dilakukan, jawaban apa yang diberikan ketika ujian dan berharap jawaban itu benar? Tetapi, apakah setiap hari engkau bertanya juga tentang urusan agamanya? Apakah engkau bertanya sudahkah dia shalat? Dengan siapa dia duduk dan bergaul? Tidakkah engkau bertanya apa yang dia lakukan ketika tidak di rumah, ta’at atau maksiat?

Ayah, bukankah dadamu terasa sesak ketika tahu bahwa si buah hati salah dalam menjawab ujian? Bukankah engkau merasa terhimpit ketika tahu bahwa nilainya jauh di bawah sempurna bahkan rata-rata? Bukankah engkau merasa terpukul ketika tahu bahwa dia gagal dalam ujiannya? Akan tetapi, apakah dadamu juga terasa sesak, dadamu juga terasa terhimpit ketika tahu bahwa anakmu sangat minim dalam menunaikan kewajiban-kewajiban agamanya terlebih sunah-sunahnya? Tidakkah ini cukup menjadi bukti bahwa engkau lebih dan hanya memperhatikan dunianya dan mengabaikan akhiratnya?

Ayah, engkau mengira apabila anakmu tidak lulus ujian berarti kandas sudah cita-cita dan harapan yang ada. Engkau menyangka bahwa dalam hal itu tidak ada kesempata kedua terlebih ketiga. Ketahuilah wahai Ayah…, bahwa kegagalan yang hakiki…, kegagalan yang memang tidak ada lagi kesempatan kedua atau ketiga untuk memperbaiki, adalah masuknya mereka ke dalam neraka dengan api yang panas menyala-nyala. Tahukah engkau bahwa kegagalan yang hakiki adalah penyesalan dan kerugian yang disertai adzab yang pedih lagi menghinakan? Setelah ini akankah engkau masih beralasan bahwa kita sekarang hidup di dunia sehinga harus fokus memikirkannya? Kalau begitu kapankah engkau akan fokus memikirkan akhirat padahal di akhirat nanti tidak ada lagi amalan yang ada hanyalah pembalasan?

Sungguh wahai Ayah jikalau demikian adanya -kita berlindung kepada Allah darinya- maka tidaklah bermanfaat kesuksesan yang diraih di dunia. Tidaklah bermanfaat ijazah, harta, istana yang megah, kedudukan dan kekuasaan kalau ternyata catatan amal perbuatan diberikan dari arah kirinya. Kemudian mereka akan berteriak:
“Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-sekali tidak memberikan manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaannku dariku.” (Al-Haqqah: 25-29)

Ah…sungguh tidak bermanfaat kekuasaanku, ilmu duniaku, serta ijazahku. Semuanya telah hilang, semuanya lenyap…yang ada hanyalah kerugian dan kegagalan.

Tahukah engkau apakah kerugian itu? Tahukah engkau apakah kegagalan itu? Ya, di dunia kerugian dan kegagalan itu adalah jika anakmu tidak bisa menjadi dokter, atau insinyur atau pilot dan guru. Akan tetapi di akherat, yang ada hanyalah kebahagiaan atau kesengsaraan. Yang satu berarti surga yang lainnya berarti neraka. Akankah engkau rela membiarkan mereka mengalami kerugian dan kegagalan dalam arti kesengsaraan di dalam neraka?

Saya tidak katakan tinggalkan anak-anakmu! Saya tidak katakan biarkan mereka jangan diajari masalah dunia! Tidak, demi Allah, saya tidak katakan demikian. Saya hanya katakan bahwa akherat lebih utama dan ditekankan untuk diperhatikan, lebih serius untuk diusahakan dan lebih bersunguh-sungguh untuk beramal meraih kebahagiaannya.

Wahai Ayah…! Siapakah di antaramu yang begitu bersemangat bersungguh-sungguh mendatangkan seorang pendidik untuk mengajarkan kepada anaknya Al-Qur’an dan menerangkan As-Sunnah? Sungguh sedikit sekali yang telah berbuat demikian. Alangkah baik kiranya kalau mereka tidak memfasilitasi anak-anaknya dengan sarana kerusakan. Akan tetapi kita lihat justru mereka dengan jeleknya pemikiran dan kurangnya perhitungan malah mendatangkan kejelekan bagi anak-anaknya dengan memfasilitasi dengan kendaraan-kendaraan, sopir pribadi, pembantu (pelayan) serta memenuhi rumahnya dengan barang-barang dan hal-hal yang diharamkan yang melalaikan dari dzikrullah dan ta’at kepada-Nya.

Siapakah di antara kalian wahai Ayah yang memberikan hadiah pada anaknya apabila hafal satu juz dari Al-Qur’anul Karim atau beberapa hadits dari hadits Nabi saw ? Sungguh sangat sedikit sekali yang demikian ini. Kita mohon kepada Allah agar memberkahi yang sedikit ini. Kita lihat sebagian manusia, mereka menjanjikan pada anaknya apabila lulus ujian akan diajak pesiar menyusuri pantai yang indah atau wisata ke mancanegara, apakah Eropa atau Amerika, serta mereka menjanjikan dibelikan mobil agar bebas mengukur jalan. Namun adakah di antara meraka yang menjanjikannya untuk diajak umrah atau haji dan mengunjungi masjid Nabi saw?

Setelah semua itu, tahukah engkau wahai Ayah apakah buah dari hasil pendidikan seperti itu? Tahukah engkau apakah hasil dari pendidikan yang mengabaikan masalah akhirat tersebut? Hasilnya adalah Al-Qur’an berganti menjadi majalah, siwak berganti menjadi rokok dan lebih parah lagi mereka akan hidup tidak ubahnya binatang ternak. Tahukah engkau apa di antara yang membedakan kita dari binatang ternak? Kita diberikan fasilitas untuk mengerti bahwa dunia hanyalah sementara. Kita mengetahui bahwa ada kehidupan yang kekal selamanya. Maka selayaknyalah kita untuk berusaha menggapai kebahagiaan di sana. Tetapi apabila tidak demikian maka tidaklah beda dengan binatang bahkan lebih sesat karena kita diberi fasilitas sedangkan mereka tidak. “Mereka seperti binatang ternak bahkan lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai.” (Al-A’raf: 179)

Di samping memperhatikan pekembangan fisik anak, kita juga harus memperhatikan pendidikan akal dan hati mereka. Kita harus memikirkan nasib mereka setelah matinya.

Langkah pertama untuk itu adalah kita perbaiki terlebih dahulu diri kita, karena dengan baiknya diri kita maka mereka akan ada di atas keteguhan dan kekokohan serta ada di dalam penjagaan Allah swt. Allah berfirman:”Ayah mereka berdua adalah orang yang shalih” (Al-Kahfi: 82)

Kedua, kita jadikan bimbingan dan pengajaran Islam sebagai tujuan. Tidak ada halangan untuk belajar dan mempelajari ilmu-ilmu dunia akan tetapi tidak sebesar perhatiannya terhadap akhirat. Allah berfirman:”Dan carilah apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu lupakan nasib (bagian)mu dari (keni’matan) dunia.” (Al-Qashash: 77)

Wahai Ayah! Maka takutlah engkau kepada Allah pada apa yang menjadi tanggunganmu karena engkau akan diminta pertanggujawabannya di hadapan Allah. Takutlah engkau kepada Allah bahwasanya Allah telah memberikan anak sebagai amanat kepadamu tapi engkau justru membukakan pintu-pintu kejelekan bagi mereka. Allah mengamanatimu tapi engkau malah menyibukkan mereka dengan film-film, sinetron-sinetron, perangkat-perangkat kekejian, majalah-majalah porno dan semisal dengan itu. Jika demikian adanya berarti engkau telah mengkhianati amanat yang dipikulkan kepadamu dan engkau telah menipu mereka yang menjadi tanggunganmu. Nabi saw bersabda:”Tidaklah seseorang diberi amanat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya (tanggungannya) kemudian dia mati dalam keadaan menipu mereka, melainkan Allah haramkan baginya surga.” (Bukhari Muslim)

Ayah….! Jika engkau memang sayang pada buah hatimu, tidak ingin menipu mereka dan juga tidak ingin mengkhianati amanat yang dipikulkan di pundakmu, maka kemarilah! Kemarilah untuk sama-sama menyimak wasiat Luqman kepada anaknya. Wasiat seorang ayah yang yang sangat menyayangi anaknya dan menebusnya dengan sangat mahal dan berharga. Tahukan engkau apakah dia mewasiatinya dengan dunia? Apakah dia mewasiatinya dengan intan permata dan segala perhiasan kemewahan lainnya? Tidak, bahkan dia mewasiati anaknya dengan apa yang akan menjadikannya ada dalam kehidupan yang baik. Kehidupan yang akan menyelamatkannya dari adzab Allah yang pedih. Sungguh Allah telah mengabadikannya dalam Al-Qur’an. Pernahkah engkau mendapatinya? Tahukah engkau apakah wasiatnya itu?

Adalah Luqman Al-Hakim dengan kasih sayang yang begitu besar kepada anaknya, dia berwasiat agar jangan berbuat syirik, yakni menyekutukan Allah swt. “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, waktu dia memberikan nasihat kepadanya: ‘Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah sebesar-besar kezhaliman.” (Luqman: 13)
Ya… adakah kezhaliman yang lebih besar dari syirik? Itulah apa yang dikhawatirkan Luqman pada anaknya sehingga mewasiati agar jangan sampai terjatuh ke dalamnya. Adakah engkau pernah menyampaikan ini pada anakmu?

Kemudian, beliau dengan segenap kasih sayangnya menunjukkan pada anaknya apa yang akan menyelamatkan anaknya dari adzab Allah yaitu dengan menghadap kepada-Nya melalui shalat, memerintahkan yang ma’ruf serta mencegah dari yang munkar. Adakah engkau demikian wahai ayah? Saya berharap engkau sudah memenuhi semuanya sehingga hanya tinggal menyampaikannya kepada anakmu. Karena jika tenyata engkaupun belum demikian…maka ini adalah mushibah dari sebenar-benar mushibah, dan kita berlindung darinya.

Setelah itu, Luqman mewasiati anaknya agar berhias dengan akhlaq yang mulia yang akan mengangkat jiwanya dan akan tinggi derajatnya. Janganlah sombong dan menghina sesama. Sederhanalah dalam berjalan dan lunakkanlah suara dalam pembicaraan. “Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Luqman: 19)

Inilah wahai Ayah, sejumlah wasiat dari ayah yang begitu sangat menyayangi dan mendambakan kebahagian bagi si buah hati. Pernahkah engkau menyampaikannya pada anakmu, sebagiannya atau bahkan seluruhnya..?!

Ada fenomena yang sangat kita sesali dan kita keluhkan semuanya kepada Allah, yakni sebagian ayah berusaha mematahkan semangat anaknya dan menghalangi kesungguhannya ketika melihat bahwa Allah telah memberikan hidayah kepadanya untuk mendalami dan mengamalkan ilmu agama. Bahkan di antara mereka ada yang sampai menghasut dan menakut-nakuti serta menebar was-was. Mereka mengatakan bahwa belajar agama hanya akan mengikat kebebasan jiwa. Mereka juga mencela dan juga memperolok-oloknya, sehingga tidak tahu lagi apakah yang dicela itu adalah orangnya atau agama yang dibawanya. Ketika didapati anaknya memanjangkan janggut maka dikatakan seperti kambing. Ketika anaknya berusaha mengenakan pakaian di atas mata kaki maka dikatakan takut cacing dan lain sebagainya. Maka apakah ini perlakuannmu terhadap apa yang menjadi amanatmu? Apakah ini yang engkau nasihatkan kepada mereka?

Takutlah engkau kepada Allah! Takutlah bahwasanya Allah sentiasa mengawasi bagaimana engkau mendidik mereka. Ajarilah mereka apa yang bermanfaat baginya dari urusan agama dan dunianya. “Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain dari main-main dan sendau gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidaklah kamu memahaminya!”(Al-An’am:32)

Ayah….! Engkau telah menyiapkan anakmu untuk menghadapi ujian dunia. Maka takutlah kepada Allah dan ketahuilah olehmu serta beritahukanlah kepada anak-anakmu bahwa barang dagangan Allah (surga) jauh lebih berharga dan lebih mahal dari perhiasan dunia. Dan ajarkanlah serta beritahukanlah mereka bahwa kesuksesan yang hakiki ada pada membatasi diri pada apa yang Allah ridlai. Beritahukanlah kepada mereka dan ketahui olehmu juga bahwa kebahagiaan yang hakiki ada pada taqwa dan ta’at kepada Allah.

Serta ketahuilah olehmu bahwa kaki seorang hamba tidak akan bergeser sejengkalpun dari posisinya pada hari kiamat dan akan diadukan kezhalimannya oleh orang yang pernah dizhaliminya. Anak akan senang bisa mendapatkan ayahnya untuk mengadukan kezhaliman yang pernah dilakukannya, demikian juga istrinya. Pada hari kiamat nanti anak-anak akan membantah dan menyalahkan ayah-ayah mereka dengan berkata: “Wahai Rabb kami, ambil lah hak kami pada ayah kami yang zhalim ini. Dia telah menyebabkan kami tidak melakukan apa yang Engkau ridlai. Dialah yang telah mendidik kami tidak ubahnya binatang ternak. Dialah yang mendatangkan berbagai hal yang membinasakan dan tidaklah ada satu kerusakan melainkan didatangkannya ke hadapan kami.” Maka apakah yang nanti akan engkau katakan untuk menjawab semuanya itu wahai Ayah yang penyayang, yang begitu “sayang”nya sehingga menjerumuskan anaknya pada kebinasaan? Bahkan pada akhirnya nanti sama-sama ada dalam kebinasaan.
“Yaitu pada hari dimana tidak bermanfaat lagi harta dan anak-anak. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (Asy-Syu’araa’: 88-89)

Maka di manakah hartamu? Di manakah anak yang engkau banggakan itu? Mereka justru menyalahkanmu dan menyeretmu untuk ikut merasakan panas neraka karena engkaulah yang punya andil besar untuk itu.
Kita berlindung kepada Allah dari semua itu dan memohon agar Allah menunjukkan kita kepada kebaikan dan memberikan kekuatan dan kemudahan untuk menempuhnya serta dimatikan di atasnya, serta kita memohon kepada-Nya agar menyelamatkan kita, keluarga serta anak keturunan kita dari adzab-Nya yang pedih. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Terakhir wahai Ayah! Bertaqwalah engkau kepada Allah. Takutlah Engkau kepada-Nya pada apa yang engkau lakukan untuk anakmu. Perbaikilah pendidikan mereka! Jagalah mereka dari segala kerusakan dan kealpaan dalam segala kebaikan. Lakukanlah sejak sekarang selama mereka masih ada di hadapan kalian. Selama kalian masih bisa bersungguh-sungguh mengusahakan. Lakukanlah segera sebelum kalian hanya bisa melakukan celaan dan penyesalan yaitu pada hari dimana tidak akan bermanfaat lagi celaan dan penyesalan. Dan Allah lah tempat kita meminta perlidungan dan pertolongan.

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); di sisi Allah lah pahala yang besar.” (At-Thagaabun: 15)

Wassalam.

Surat Untuk Cintaku

Sebenarnya surat ini ingin kukirimkan kepadamu wahai engkau yang mampu melumpuhkan hatiku. Surat ini ingin kuselipkan dalam satu kehidupanmu, namun aku hanya lelaki yang tak memiliki keberanian dalam mengungkapkan semua percikan-percikan rasa yang terjadi dalam hatiku. Aku hanya dia yang engkau anggap tidak lebih, aku hanya merasa seperti itu.

Assalamu’alaikum wahai engkau yang melumpuhkan hatiku

Tak terasa dua tahun aku memendam rasa itu, rasa yang ingin segera kuselesaikan tanpa harus mengorbankan perasaan aku atau dirimu. Seperti yang engkau tahu, aku selalu berusaha menjauh darimu, aku selalu berusaha tidak acuh padamu. Saat di depanmu, aku ingin tetap berlaku dengan normal walau perlu usaha untuk mencapainya.

Takukah engkau wahai yang mampu melumpuhkan hatiku? Entah mengapa aku dengan mudah berkata “cinta” kepada mereka yang tak kucintai namun kepadamu, lisan ini seolah terkunci. Dan aku merasa beruntung untuk tidak pernah berkata bahwa aku mencintaimu, walau aku teramat sakit saat mengetahui bahwa aku bukanlah mereka yang engkau cintai walaupun itu hanya sebagian dari prasangkaku. Jika boleh aku beralasan, mungkin aku cuma takut engkau akan menjadi “illah” bagiku, karena itu aku mencoba untuk mengurung rasa itu jauh ke dalam, mendorong lagi, dan lagi hingga yang terjadi adalah tolakan-tolakan dan lonjakan yang membuatku semakin tidak mengerti.

Sakit hatiku memang saat prasangkaku berbicara bahwa engkau mencintai dia dan tak ada aku dalam kamus cintamu, sakit memang, sakit terasa dan begitu amat perih. Namun 1000 kali rasa itu lebih baik saat aku mengerti bahwa senyummu adalah sesuatu yang berarti bagiku. Ketentramanmu adalah buah cinta yang amat teramat mendekap hatiku, dan aku mengerti bahwa aku harus mengalah.

Wahai engkau yang melumpuhkan hatiku, andai aku boleh berdoa kepada Tuhan, mungkin aku ingin meminta agar Dia membalikkan sang waktu agar aku mampu mengedit saat-saat pertemuan itu hingga tak ada tatapan pertama itu yang membuat hati ini terus mengingatmu. Jarang aku memandang wanita, namun satu pandangan saja mampu meluluhkan bahkan melumpuhkan hati ini. Andai aku buta, tentu itu lebih baik daripada harus kembali lumpuh seperti ini.

Banyak lembaran buku yang telah kutelusuri, banyak teman yang telah kumintai pendapat. Sebahagian mendorongku untuk mengakhiri segala prasangku tentangmu tentang dia karena sebahagian prasangka adalah suatu kesalahan,mereka memintaku untuk membuka tabir lisan ini juga untuk menutup semua rasa prasangmu terhadapku. Namun di titik yang lain ada dorongan yang begitu kuat untuk tetap menahan rasa yang terlalu awal yang telah tertancap dihati ini dan membukanya saat waktu yang indah yang telah ditentukan itu (andai itu bukan suatu mimpi).

Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, mungkin aku bukanlah pejantan tangguh yang siap untuk segera menikah denganmu. Masih banyak sisi lain hidup ini yang harus ku kelola dan kutata kembali. Juga kamu wahai yang telah melumpuhkan hatiku, kamu yang dengan halus menolak diriku menurut prasangkaku dengan alasan belum saatnya memikirkan itu. Sungguh aku tidak ingin menanggung beban ini yang akan berujung ke sebuah kefatalan kelak jika hati ini tak mampu kutata, juga aku tidak ingin BERPACARAN denganmu.

Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, mungkin saat ini hatiku milikmu, namun tak akan kuberikan setitik pun saat-saat ini karena aku telah bertekad dalam diriku bahwa saat-saat indahku hanya akan kuberikan kepada BIDADARI-ku. Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, tolong bantu aku untuk meraih bidadari-ku bila dia bukanmu.

Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, tahukah kamu betapa saat-saat inilah yang paling kutakutkan dalam diriku, jika saja Dia tidak menganugerahi aku dengan setitik rasa malu, tentu aku telah meminangmu bukan sebagai istriku namun sebagai kekasihku.

Andai rasa malu itu tidak pernah ada, tentu aku tidak berusaha menjauhimu. Kadang aku bingung, apakah penjauhan ini merupakan jalan yang terbaik yang berarti harus mengorbankan ukhuwah diantara kita atau harus mengorbankan iman dan maluku hanya demi hal yang tampak sepele yang demikian itu.

Aku yang tidak mengerti diriku…

Ingin ku meminta kepadamu, sudikah engkau menungguku hingga aku siap dengan tegak meminangmu dan kau pun siap dengan pinanganku?! Namun wahai yang telah melumpuhkan hatiku, kadang aku berpikir semua pasti berlalu dan aku merasa saat-saat ini pun akan segera berlalu, tetapi ada ketakutan dalam diriku bila aku melupakanmu. .. aku takut tak akan pernah lagi menemukan dirimu dalam diri mereka-mereka yang lain.

Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, ijinkan aku menutup surat ini dan biarkan waktu berbicara tentang takdir antara kita. Mungkin nanti saat dimana mungkin kau telah menimang cucu-mu dan aku juga demikian, mungkin kita akan saling tersenyum bersama mengingat kisah kita yang tragis ini. Atau mungkin saat kita ditakdirkan untuk merajut jalan menuju keindahan sebahagian dari iman, kita akan tersenyum bersama betapa akhirnya kita berbuka setelah menahan perih rindu yang begitu mengguncang.

Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, mintalah kepada Tuhan-mu, Tuhan-ku, dan Tuhan semua manusia akhir yang terbaik terhadap kisah kita. Memintalah kepada-Nya agar iman yang tipis ini mampu bertahan, memintalah kepada-Nya agar tetap menetapkan malu ini pada tempatnya.

Wahai engkau yang sekarang kucintai, semoga hal yang terjadi ini bukanlah sebuah DOSA.

Wassalam

Ampuni Aku Ya Rabb


Aku duduk sambil tersungut di pojok beranda masjid. Hatiku geram. Sesekali gemerutuk gigi-gigi geraham yang bertubrukan menggoyang-goyang pipiku. Hembusan nafas antara putus asa dan rasa marah kulempar berulangkali. Kalau saja bukan karena di masjid, ingin segera kutumpahkan segala caci maki dan kejengkelanku sampai aku puas. Puas menumpahkan emosi kepada siapa yang telah menzalimi diriku.

Pandanganku menyapu tangga masjid tua itu sekali lagi. Dari satu pojok ke pojok yang lain. Dari satu tangga ke tangga yang lain. Bahkan rak sepatu dan sandal di sisi tempat penitipan barang telah aku periksa berungkali. Tapi hasilnya nihil. Akhirnya aku menerima kehilangan itu dengan terpaksa. Terpaksa menahan marah, jengkel, kecewa di ”Rumah” Tuhan. Terpaksa pula kehilangan kesabaran karena dizalimi di ”Rumah” Tuhan.

Tiba-tiba entah dari mana datangnya, seorang kakek tua berjubah putih telah duduk persis di samping kananku. Aku setengah takjub. Belum hilang rasa jengkelku karena kecurian, kedatangan pria yang seolah misterius ini menambah kalut mesin beripikir di kepalaku. Meskipun begitu, sejenak aku terhibur. Ia tersenyum amat berwibawa. Wajahnya berseri. Janggutnya yang lebat rapih menyihirku. Ia menatapku dalam menghujam.

”Apa yang Engkau risaukan, anak muda?”, sapanya. Suaranya khas sekali. Berat dan kharismatik.

”Bapak, siapa?”, kujawab sapaannya dengan balik bertanya.

”Sama seperti kamu, anak muda. Hamba Tuhan. Mengapa wajahmu kelihatan marah dan tertekan?”, ia kembali bertanya tentang perasaanku.

”Saya kehilangan sandal. Sandal seharga duaratus limapuluh ribu. Baru saya pakai sakali ini”, jawab saya datar tidak seperti lahar kejengkelan yang membara sebelum bertemu laki-laki sepuh ini.

”Cuma sandal?”, ia balik bertanya mendengara jawaban saya.

”Ya, memang cuma sandal. Tapi harganya cukup mahal”, kilahku.

”Duaratus limapuluh ribu, itu harga yang murah. Belum sebanding”, kali ini pernyataannya lebih ditekan. Perasaanku ikut tertekan.

Sejurus, lelaki sepuh berjubah putih itu berdiri. Tangannya diulurkan ke arahku. Anggukan kepalnya memberi isyarat, agar aku mengikuti langkahnya. Aku menurut saja.

”Mari saya carikan obat”.

Obat? Aku tak butuh obat pikirku. Kalaupun yang kubutuhkan sekarang adalah sandalku kembali. Aku juga butuh tahu siapa orang yang telah mencurinya. Kalau perlu aku akan menghajarnya karena telah mengambil milik orang yang bukan haknya.

Aku terus mengikutinya hingga sampai di suatu tempat yang mirip pasar tradisional tapi lengang. Aku dibawanya mampir ke sebuah toko. Susana di sekitar toko itu pun sepi. Hanya ada satu dua orang saja yang melintas dan melihat-lihat barang yang dijual. Kesepiannya mengantarku seperti tengah berada di negeri asing. Suasana dan orang-orang yang kujumpai asing. Orang yang mengajakku pun asing. Lalu, Aku ditunjukkan pada pemilik toko yang juga asing. Aku kemudian tahu, ia menjual sepatu dan sandal-sandal bekas.

”Anak muda, singgahlah sebentar dan tumpahkan kekesalanmu pada pemilik toko ini. Mudah-mudahan hatimu ridha atas sandalmu. Sandalmu belum sebanding”. Aku belum tetap mengerti maksud ucapan ”belum sabanding” lelaki sepuh itu. Aku ingin menanyakannya, tetapi ia keburu menghilang. Entah kemana.

Tapak kakiku terasa panasperih. Kerikil dan tanah kering yang terbakar terik matahari, leluasa menusuk-nusuk hingga ke ujung jari kakiku yang tak lagi bersandal. Kakiku tersiksa oleh keculasan si pencuri. Dia telah memecah-mecah tumitnya hingga menyisakan garis-garis hitam. Jelek dan kusam. Yang kumaki kini bukan lagi si pencuri sandal, tapi juga kuratapi nasib kedua kakiku.

Kuhampiri lebih dekat toko itu. Lebih dekat, kulihat sosok laki-laki bersurban duduk bersila di atas dipan. Gamisnya menutup tubuhnya hingga kedua kakinyapun tersembunyi. Melihat kedatanganku dan mendekat, laki-laki itu tersenyum dan menyambut hangat. Tapi sedikitpun ia tidak bergeser dari duduknya. Hanya mempersilahkan aku melihat-lihat barang bekasnya.

”Silahkan anak muda. Barangkali ada yang berkenan di hatimu”, laki-laki itu menyapa dan menawarkan dagangannya. Aku merasa ada baiknya memilih sepasang.

” Terima kasih. Kalau bukan karena pencuri sialan itu, mungkin saya tidak akan sampai di sini”. Aku mulai memaki lagi nasib buruk beberapa saat lalu. Tanpa terasa keluhan atas semua kesialanku tertumpah. Kumaki habis pencuri sandal mahalku itu seolah ia tepat di depanku. Suaraku geram, mataku jalang dan lidah kemarahanku menyambar-nyambar dinding caci maki dan menumpahkannya sebanyak mungkin sampai aku capek sendiri.

”Inna lillahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Sebegitu marah dan kecewanyakah Engkau anak muda?”, tiba-tiba laki-laki pemilik toko itu bicara. Segera Aku sepenuhnya sadar, bahwa pemilik toko itu menangkap semua emosi yang kutumpahkan. Umpat, caci maki dan seribu kata keji mungkin ia tangkap pula seluruhnya. Menatap matanya, aku malu. Mendengar responnya, aku membisu.

”Marah dan kata-kata kasarmu tidak sebanding dengan sandalmu yang dicuri. Jika si pencuri itu hadir di matamu, luka hatinya atas cacianmu tidak sepadan dengan luka memar di kakimu itu. Padahal kamu belum tahu alasan mengapa ia mencuri”, pemilik toko itu menghujam ulu hatiku dengan ucapannya yang tajam lagi datar. Aku terperangah dengan muka memerah. Kini aku jadi bulan-bulanan atas mulutku sendiri.

Laki-laki itu melanjutkan, ” padahal bisa jadi ia mencuri karena terpaksa, bukan semata-mata karena kebiasaannya mencuri. Mungkin karena lapar, anak dan isterinya juga kelaparan atau karena satu dan lain hal sehingga memaksanya mengambil milik orang lain”.

”Tapi, mungkin juga karena memang orang itu terbiasa mencuri, bukan? Bahkan dilakukannya di masjid, Rumah Tuhan”, Aku mencoba membela diri.

”Mungkin juga. Bahkan karena nekatnya, di masjid pun ia lakukan. Namun, sikapmu menerima situasi demikian tidak pantas Anak Muda. Caci dan makianmu tidak mengembalikan sandalmu yang hilang, sementara mulutmu telah tidak sadar kau kotori dengan dosa oleh cacianmu itu”.

Ulu hatiku semakin sakit. Aku yang tengah dirundung sial terus terpojok. Aku membatin. Tapi, kata-kata penjaga toko itu perlahan mempengaruhi kesadaranku. Ego dan amarahku hampir redup disiram bijak kata-katanya, meskipun letupan-letupan dendam kesumat kecil masih timbul tenggelam di ujung nafsu amarah.

”Sandal itu cukup mahal bagi saya. Dua ratus lima puluh ribu hampir seperdelapan dari gaji saya setiap bulan untuk harganya. Lagi pula, baru sekali ini saya pakai. Wajar kan jika saya kecewa dan marah?”, Aku masih mencoba bertahan di antara sisa-sisa ke-Aku-an yang kian padam.

Laki-laki pemilik toko itu hanya tersenyum mendengar pembelaanku. Kepalanya menggeleng-geleng ritmis. Alisnya yang bertaut bergerak ke atas mengikuti gerak tubuhnya yang bergeser mendekati tepi dipan.

“ Engkau masih beruntung, Anak muda. Karena cuma sandalmu yang hilang. Harga dirimu tidak koyak, rasa malumu tetap terjaga dan kepercayaan dirimu masih utuh. Kamu masih patut bersyukur sebab masih dapat berjalan tegak meskipun tanpa sandal. Kamu tidak pantas menjadi laki-laki rapuh dihantam marah hanya karena kehilangan harga dua ratus lima puluh ribu saja. Lihatlah keadaanku”.

Laki-laki itu menyingkap ujung bawah gamisnya. Aku terkesiap. Ya Tuhan, dua kakinya buntung sebatas pergelangan. Aku merinding disergap ngeri. Tenggorokanku kering kerontang seketika. Inikah arti dari ucapan ”belum sebanding” orang sepuh beberapa saat lalu?

”Aku kehilangan dua pergelangan kaki, Anak muda. Aku juga tidak tahu berapa harga kedua kaki itu. Yang kuingat bahwa kecelakaan kerja yang kualami lima tahun lalu merenggut keduanya. Aku masih bersyukur nyawaku selamat. Allah masih menyayangiku. Lagi pula Aku tidak pernah membayar untuk sepasang kaki itu. Gratis. Kecelakaan itu adalah sunnatullah bahwa Yang Maha Memberi, meminta kaki yang dititipkan padaku dikembalikan pada-Nya. Kamu masih lebih beruntung berlipat-lipat. Allah hanya meminta sandalmu, bukan kakimu. Lihatlah, kakimu masih menapak dengan jemarinya yang masih utuh”.

Aku membatu dalam kebisuan. Hancur lebur sudah kemarahan yang sejak tadi kumanjakan. Gemuruh dadaku berubah warna dari merah membara menjadi putih kebiruan. Sejuk, lumer dan dan akhirnya kerdil.

” Anak muda, jangan pernah berpikir absolut bahwa apa yang selama ini kita genggam adalah milik kita. Semua hal yang Kau pandang sebagai kekayaan, apapun wujudnya, hakikatnya hanya titipan. Manusia hanya sebatas diberi hak untuk memanfaatkan dalam kebaikan. Bukan memiliki sekehendak hati, apalagi dengan membabi buta seperti orang yang lupa bahwa dunai ini pun akan ditinggalkannya. Kalau hanya sekedar sandal saja Engkau sudah begitu takabur, bagaimana dengan kehidupanmu yang kelak juga akan diambil-Nya?”.

Habis sudah diriku. Habis sudah egoku. Air hangat meleleh dari kedua kelopak mataku. Dadaku sesak oleh luapan tangis yang kutahan sedapat mungkin. Tagi guncangannya tak kuat kutahan. Sampai kemudian aku sadar sesadar sadarnya.

”Ayah, bangun Yah, sudah jam empat”.

Antara jaga dan tidur aku merasakan sentuhan lembut di pundaku. Suara yang amat kukenal membangunkanku dari selimut malam dan menghentikan dengkurnya. Aku bangun dengan kelopak mata yang basah. Aku menangis dalam tidur, tapi air mata dan penggalan mimpi terbawa di alam jaga. Aku benar-benar hanyut. Jauh, jauh sekali. Ya Allah mimpi apa itu? Apakah Engkau tengah menegurku sebab beberapa minggu lalu Aku sempat mengeluh lama karena kehilangan telepon genggam untuk yang kedua kali?

Alhamdulillah, Aku masih hidup dan masih diberi kesempatan menghirup udara pagi. Ya Allah, rizki yang kau beri memang datang dan pergi silih berganti. Ampuni Aku Ya Rabb.

Janji Allah Bagi Orang Yang Akan Menikah

etika seorang muslim baik pria atau wanita akan menikah, biasanya akan timbul perasaan yang bermacam-macam. Ada rasa gundah, resah, risau, bimbang, termasuk juga tidak sabar menunggu datangnya sang pendamping, dll. Bahkan ketika dalam proses taaruf sekalipun masih ada juga perasaan keraguan.

Berikut ini sekelumit apa yang bisa saya hadirkan kepada pembaca agar dapat meredam perasaan negatif dan semoga mendatangkan optimisme dalam mencari teman hidup.
Ketika seorang muslim baik pria atau wanita akan menikah, biasanya akan timbul perasaan yang bermacam-macam. Ada rasa gundah, resah, risau, bimbang, termasuk juga tidak sabar menunggu datangnya sang pendamping, dll. Bahkan ketika dalam proses taaruf sekalipun masih ada juga perasaan keraguan.

Berikut ini sekelumit apa yang bisa saya hadirkan kepada pembaca agar dapat meredam perasaan negatif dan semoga mendatangkan optimisme dalam mencari teman hidup. Semoga bermanfaat buat saya pribadi dan kaum muslimin semuanya. Saya memohon kepada Allah semoga usaha saya ini mendatangkan pahala yang tiada putus bagi saya.

Inilah kabar gembira berupa janji Allah bagi orang yang akan menikah. Bergembiralah wahai saudaraku…

1. “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)”. (An Nuur : 26)
Bila ingin mendapatkan jodoh yang baik, maka perbaikilah diri. Hiduplah sesuai ajaran Islam dan Sunnah Nabi-Nya. Jadilah laki-laki yang sholeh, jadilah wanita yang sholehah. Semoga Allah memberikan hanya yang baik buat kita. Amin.

2. “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (An Nuur: 32)

Sebagian para pemuda ada yang merasa bingung dan bimbang ketika akan menikah. Salah satu sebabnya adalah karena belum punya pekerjaan. Dan anehnya ketika para pemuda telah mempunyai pekerjaan pun tetap ada perasaan bimbang juga. Sebagian mereka tetap ragu dengan besaran rupiah yang mereka dapatkan dari gajinya. Dalam pikiran mereka terbesit, “apa cukup untuk berkeluarga dengan gaji sekian?”.

Ayat tersebut merupakan jawaban buat mereka yang ragu untuk melangkah ke jenjang pernikahan karena alasan ekonomi. Yang perlu ditekankan kepada para pemuda dalam masalah ini adalah kesanggupan untuk memberi nafkah, dan terus bekerja mencari nafkah memenuhi kebutuhan keluarga. Bukan besaran rupiah yang sekarang mereka dapatkan. Nantinya Allah akan menolong mereka yang menikah. Allah Maha Adil, bila tanggung jawab para pemuda bertambah – dengan kewajiban menafkahi istri-istri dan anak-anaknya, maka Allah akan memberikan rejeki yang lebih. Tidakkah kita lihat kenyataan di masyarakat, banyak mereka yang semula miskin tidak punya apa-apa ketika menikah, kemudian Allah memberinya rejeki yang berlimpah dan mencukupkan kebutuhannya?

3. “Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160)

Bagi siapa saja yang menikah dengan niat menjaga kesucian dirinya, maka berhak mendapatkan pertolongan dari Allah berdasarkan penegasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini. Dan pertolongan Allah itu pasti datang.

4. “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnyapada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (Ar Ruum : 21)

5. “Dan Tuhanmu berfirman : ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’ ”. (Al Mu’min : 60)

Ini juga janji Allah ‘Azza wa Jalla, bila kita berdoa kepada Allah niscaya akan diperkenankan-Nya. Termasuk di dalamnya ketika kita berdoa memohon diberikan pendamping hidup yang agamanya baik, cantik, penurut, dan seterusnya.

Dalam berdoa perhatikan adab dan sebab terkabulnya doa. Diantaranya adalah ikhlash, bersungguh-sungguh, merendahkan diri, menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, dll.

Perhatikan juga waktu-waktu yang mustajab dalam berdoa. Diantaranya adalah berdoa pada waktu sepertiga malam yang terakhir dimana Allah ‘Azza wa Jalla turun ke langit dunia, pada waktu antara adzan dan iqamah, pada waktu turun hujan, dll.

Perhatikan juga penghalang terkabulnya doa. Diantaranya adalah makan dan minum dari yang haram, juga makan, minum dan berpakaian dari usaha yang haram, melakukan apa yang diharamkan Allah, dan lain-lain.

Manfaat lain dari berdoa berarti kita meyakini keberadaan Allah, mengakui bahwa Allah itu tempat meminta, mengakui bahwa Allah Maha Kaya, mengakui bahwa Allah Maha Mendengar, dst.

Sebagian orang ketika jodohnya tidak kunjung datang maka mereka pergi ke dukun-dukun berharap agar jodohnya lancar. Sebagian orang ada juga yang menggunakan guna-guna. Cara-cara seperti ini jelas dilarang oleh Islam. Perhatikan hadits-hadits berikut yang merupakan peringatan keras dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Barang siapa yang mendatangi peramal / dukun, lalu ia menanyakan sesuatu kepadanya, maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh malam”. (Hadits shahih riwayat Muslim (7/37) dan Ahmad).

Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Maka janganlah kamu mendatangi dukun-dukun itu.” (Shahih riwayat Muslim juz 7 hal. 35).

Telah bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya jampi-jampi (mantera) dan jimat-jimat dan guna-guna (pelet) itu adalah (hukumnya) syirik.” (Hadits shahih riwayat Abu Dawud (no. 3883), Ibnu Majah (no. 3530), Ahmad dan Hakim). <8

Penderitaan Bukanlah Kelemahan

Setiap kali kita mengalami peristiwa yang membuat kita bersedih atau menderita seringkali kita menutupinya atau menekan perasaan kita agar tidak terlihat lemah atau takut dianggap sebagai orang yang lemah iman sehingga bila ditanya 'apa kabar? kemudian kita menjawab, 'baik..!' Tanpa kita sadari kita menolak penderitaan.

Dilingkungan kita berada bila terjadi peristiwa duka cita, kehilangan orang yang kita cintai biasanya ada ungkapan, 'sudahlah, jangan menangis. Ikhlaskan saja kepergiannya.' atau ada juga yang mengatakan, 'kayak bukan orang beriman saja, begitu kok menangis.' Itulah sebabnya kita menekan perasaan kita, menekan emosi kita, tidak menunjukkan menangis di depan umum agar kita tidak dianggap sebagai orang yang lemah bahkan dianggap sebagai orang yang kufur.

Padahal bila kita memahami lebih dalam setiap duka cita dan penderitaan yang kita alami sesungguhnya banyak manfaatnya dalam hidup kita. Penderitaan dan duka cita yang sering kita alami sesungguhnya bukan kelemahan melainkan sebuah kekuatan yang ada di dalam diri kita. Ada beberapa manfaat di dalam penderitaan yang kita rasakan sebagai kekuatan.

Pertama, Pengalaman duka cita atau yang kita rasakan sebagai menderitaan justru mengajarkan kita pada limpahan kasih sayang Allah Subhanahu Wa ta'ala agar kita semakin dekat dan taat kepadaNya, dengan demikian limpahan kasih sayang Allah akan memenuhi hati kita dan hati kita memancarkan kasih sayangNya untuk semua orang yang disekeliling kita.

Kedua, penderitaan yang kita rasakan menjadikan kebahagiaan kita menjadi sempurna. Kebahagiaan sejati pada dasarnya adalah mengalami kegembiraan dan penderitaan secara seimbang. Hidup menjadi dinamis ketika semuanya datang silih berganti antara kebahagiaan dan penderitaan.

Ketiga, penderitaan membuat kita semakin peka terhadap penderitaan orang lain. Kita menjadi memiliki empati dan menghormati orang lain sebagai hamba Allah yang sama-sama dimuliakan. Kita tidak berani menghina, melecehkan, atau mencemooh orang lain karena kita merasakan betapa pahitnya sebuah penderitaan.

Keempat, ketika hati kita remuk redam, ingin menangis menangislah sesungguhnya apa yang kita rasakan sakitnya, dengan menangis merupakan salah satu cara untuk membersihkan hati kita. Menangislah kepada Allah agar diberikan kesabaran dalam menjalani hidup ini sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

'Apa yang disisimu akan lenyap dan apa yang disisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. an- Nahl : 96).

Wassalam,

Minggu, Juli 11

Persahabatan...bagai kepompong

berkatalah kepada aku tentang kebenaran persahabatan ?

Sahabat adalah kebutuhan jiwa , yang mesti terpenuhi ...
Dialah ladang hati ... yang kau taburi dengan kasih ...
dan kau panen dengan penuh rasa terima kasih ...

Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu ...
Karena kau menghampirinya saat hati lapang ... dan mencarinya saat jiwa butuh kedamaian ...

Di kala berpisah dengan sahabat ... janganlah berduka cita ... Karena yang paling kau kasihi dalam dirinya , mungkin lebih cemerlang dalam ketiadaannya , bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki , nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran ... nampak lebih indah dari kejauhan ...

Dan tiada maksud lain dari persahabatan ...kecuali saling memperkaya ruh kejiwaan ... Karena kasih yang masih menyisakan pamrih , di luar jangkauan misterinya , bukanlah kasih ... tetapi sebuah jala yang ditebarkan : hanya menangkap yang tiada diharapkan ...

Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu ...
Jika dia harus tahu musim surutmu , biarlah dia mengenal pula musim pasangmu ...

Gerangan apa sahabat itu hingga kau senantiasa mencarinya , untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu ?? bukan itu ...
Carilah ia ... untuk bersama menghidupkan sang waktu !
Karena dialah yang bisa mengisi kekuranganmu , bukan mengisi kekosonganmu ...
Dan dalam manisnya persahabatan , biarkanlah ada tawa ria berbagi kebahagiaan ...
Karena dalam titik-titik kecil embun pagi , hati manusia menemukan fajar jati dan gairah segar kehidupan ...

Ketika Jiwa MeRindu ..

Adalah perjalanan panjang bernama kehidupan yang membuat kita menjadi ada. Bukan keberadaan kita yang menjadikan diri kita berarti, tapi justru karena Dia yang menjadikan kita ada yang membuat segala yang ada pada diri kita bisa diberdayakan menjadi sebuah keberartian diri.

Bilangan hari berkejaran dan bersicepat dengan waktu yang Allah berikan dalam rentang usia yang tak pernah kita tahu entah kapan akan menemui titik perhentian. Sepanjang putaran waktu itu hati kita dilekatkan pada jiwa-jiwa yang kita cintai, yang menjadi belahan jiwa atau bahasa kerennya menjadi soulmate kita. Ada berapa ruang di hati kita? dan berapa banyak belahan jiwa yang mampu mengisi ruang-ruang itu?.

Hanya hati yang lapang yang menjadi begitu luas dan dapat menampung banyak jiwa menjadi belahan jiwa kita. Menempatkan setiap jiwa yang Allah hadirkan dalam hidup kita menjadi sebentuk rasa kasih, sayang dan cinta yang mengalun lembut, bergetar halus, berirama ritmis dengan melodi-melodi harmony mengalunkan nada-nada cinta di setiap relung-relung hati.

Ketika satu persatu Allah hadirkan jiwa-jiwa yang kita cintai, maka kebahagiaan akan semakin meruah dan melapisi hari demi hari yang kita jalani. Detik perdetik berlalu dengan rona dan tawa. Seakan kebahagiaan ingin kita dekap erat dan takkan pernah hendak kita lepaskan.

Namun satu hal yang pasti, bahwa tak pernah ada bahagia yang pasti bertahan tanpa sebuah akhir. Cinta dan kebahagiaan adalah hakekatnya sebuah ujian yang menjadi pembelajaran agar kita mampu memaknai sebuah keberartian diri dalam genggam takdir Illahi.

Hari-hari penuh cinta pada saatnya akan terisi pula dengan tangis dan air mata. Apalagi bila Sang Pemilik jiwa berkenan mengambil kembali jiwa-jiwa yang kita cintai untuk kembali dalam dekap kasih dan cintaNya yang tak pernah pudar, palsu dan semu.

Hari-hari akan menjadi pilu, lara, kelabu dan sunyi jika satu persatu jiwa-jiwa tercinta kembali ke haribaanNya. Namun layakkah menangis berkepanjangan atas permintaan Sang Hidup yang telah memberi kita kehidupan. Layakkah meratapi ketika Empunya jiwa meminta kembali apa-apa yang dititipkan pada kita?.

Seperti hari-hari terakhir ini, aku merindui setiap jiwa yang kucintai sepenuh jiwa. Kurindu Almarhum ayah , bunda, kurindu kekasih hati, almarhum sahabatku, buah hati, sibiran tulang dan cahaya mataku.

Kurindu mereka dengan segenap cinta yang kupunya. Ku rindu mereka dengan sepenuh doa yang kulantun di atas hamparan sajadah jiwa. Kurindu mereka lewat tetes-tetes airmata yang bermuara di pipiku.

tapi kutahu satu hal mereka damai dan bahagia dalam pelukan cinta Sang Pecinta sejati. Namun salahkah jika aku merindukan mereka dengan segenap memory yang masih berputar indah dalam benak dan hatiku?. Salahkah jika posisi mereka takkan pernah tergantikan oleh siapapun? meski hatiku masih punya banyak ruang untuk banyak cinta bagi jiwa-jiwa yang kucinta, bagi sahabat-sahabatku, belahan jiwaku yang lain dan bagi setiap orang yang ingin kucintai dan berharap mereka mencintaiku karena Allah saja.

Hari ini ketika rindu membuncah di jiwa ku, kularung dalam lautan doa, selaksa pinta dan berbutir-butir harap agar cinta tak pernah menjadikan aku meratap atas setiap kehilangan jiwa-jiwa yang kucintai.

Meski rindu membuncah dan kadang menyesakkan dada, kuingin menmbuat mereka tetap tersenyum dan merasakan betapa hidup yang kujalani takkan pernah sia-sia, karena aku tahu mereka berharap agar hidupku berarti dalam selembar perjalanan bernama kehidupan.

Biarlah rindu ini menjadi suluh dalam gulita kerinduanku, biarlah kangen ini menjadi bara yang menyulut semangat dan cintaku buat kehidupan, Biarlah segala yang telah tiada menjadi simpanan abadi, menjadi jenak-jenak penantian panjang buat sebuah jumpa di taman-taman surga atas kehendak dan ridhoNya.

Menjelang Ramadhan, kuuntai setulus do'a bagi jiwa-jiwa tercinta. Kuulur pula berlarik-larik rindu bagi sahabat-sahabat jiwaku . Ijinkan kupinta maaf bagi setiap salah kata pada kalian sahabat-sahabat jiwaku .

Sahabat-sahabatku, hari ini, rindu ini bukan cuma untuk mereka yang tiada, tapi rindu ini juga untuk kalian. kalian yang telah menemani hari-hari dukaku, detik-detik bahagia. Sahabat-sahabatku terima lah rinduku pada kalian sebagai sebuah cinta, cinta yang kuharap menautkan hati kita di ketinggian cinta sejati, di ketinggian surga seindah-indah tempat yang tentu menjadi tujuan akhir dari setiap hidup kita.

Biarkan rindu ini menahuh kisi-kisi jiwaku, agar cinta tetap indah dan bermakna dan menjadikan kita semakin berarti dalam keberadaan diri di alam yang yang sudah memberi banyak kesempatan buat kita menjadi sesuatu.

I am just nobody buat because of Allah and all of you my soul friends, I become somebody. Let us love each other as we love ourself. Let this friendship be forever and lasting till the end...untukmu yang belum bisa kumiliki...........
Powered By Blogger