Minggu, Oktober 17

Kealamian Ditemukan Dalam Diam


Kesibukan kerja yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain,
membuat saya memiliki jadwal terbang yang cukup padat. Hampir setiap
minggu saya terbang. Beberapa pramugara dan pramugari Garuda bahkan
mengenali saya karena terlalu sering bertemu di pesawat. Bahkan, ada
yang bercanda dan mengatakan kalau saya ini laki-laki panggilan. Dan
tentu saja mereka benar, karena saya teramat sering dipanggil orang
untuk urusan jadi pembicara publik dan konsultan. Namun, terlepas
dari godaan dan canda terakhir, ada sebuah kegiatan yang kerap saya
lakukan kalau sedang terbang : melihat dan mengamati awan.

Kadang ada hamparan awan yang serupa dengan salju yang putih bersih
dan terhampar luas. Ada juga awan yang tipis dan terbang ringan
ditiup angin. Ada juga awan tebal dan hitam yang kerap membuat
pesawat bergoyang-goyang keras. Namun, apapun warna dan jenis
awannya, awan memiliki kemewahan luar biasa yang tidak dimiliki kita
manusia : kebebasan dan keikhlasan.

Ingin rasanya memiliki kualitas kebebasan dan keikhlasan sebagaimana
awan. Dan semakin dicermati serta dipelajari, apa lagi diselami dalam
samudera-samudera kalbu yang maha luas, rupanya kita manusia juga
bisa memiliki kualitas-kualitas terakhir. Ada yang menyebutnya sulit
tentunya. Ada juga yang mengatakan tidak mungkin. Apapun halangannya,
izinkan saya bertutur ke Anda, halangan-halangan manusia yang
menggembok kita untuk memiliki kualitas kebebasan dan keikhlasan
seperti awan.

Sebagaimana dituturkan dan diyakini banyak penulis, akar dari semua
ketidakbebasan dan ketidakikhlasan manusia adalah mind. Oleh karena
berbagai sebab dan faktor, mind manusia telah berkembang menjadi
kekuatan-kekuatan pengikat yang demikian memasung. Ia yang tadinya
lahir secara alami, jernih, teduh dan terang, oleh pengalaman dan
pendidikan sudah dirubah menjadi kekuatan-kekuatan yang sebaliknya.
Depresi, stress, penderitaan, pandangan yang tidak jernih dan apapun
namanya semuanya bermula dari rantai pengikat terakhir. Bedanya
dengan rantai sebenarnya yang bisa dimintakan tolong orang lain untuk
membukanya, rantai mind diciptakan dan mesti dibuka oleh pemiliknya
sendiri.

Memang, ada banyak sebab yang tersembunyi di balik hidup yang
dirantai mind. Salah satu yang layak untuk diperhatikan adalah
pendidikan dan pengalaman. Oleh dua faktor terakhir, banyak manusia
yang sudah kehilangan sifat alami mind-nya. Pendidikan yang pada
awalnya diniatkan berfungsi sebagai jendela-jendela kejernihan, malah
berkembang sebaliknya. Melalui logika-logikanya yang keras (baca :
benar-salah), ia telah membawa banyak peserta didik terasing dari
kealamiannya sendiri. Pengalaman juga serupa, ia memang bisa menjadi
guru terbaik, namun tidak jarang terjadi, ia juga menghadirkan peta-
peta dari masa lalu yang kerap membuat orang jadi terasing dari
kesehariannya.

Sebagaimana diyakini banyak orang dalam tradisi Zen, perjalanan hidup
sering diibaratkan dengan perjalanan dari satu tempat, dan berakhir
di tempat yang sama. Dan ketika kembali, manusia seperti melihat
tempat tadi untuk pertama kalinya. Ini berarti, setinggi apapun
pengetahuan, sebanyak apapun pengalaman orang, layak dipertimbangkan
untuk kembali ke tempat di mana kita memulainya dulu. Dan siapapun
manusianya, semua memulainya di tempat yang alami.

Coba perhatikan suara bayi yang baru lahir. Entah itu di Inggris
maupun Prancis, di Australia atau di Amerika, semuanya memiliki suara
tangisan yang amat serupa. Demikian juga dengan anak-anak yang
memulai dunia sekolah, semuanya mulai dengan belajar huruf dan angka.
Setiap anak-anak memulai kehidupan intelektualnya dengan serangkaian
pertanyaan – bukan jawaban. Hal yang tidak jauh berbeda juga terjadi
dalam mind manusia, ia mulai dengan sebuah kealamian. Sayangnya,
kealamian yang menjadi awal sekaligus akhir ini, oleh upaya sengaja
maupun tidak sengaja, sudah mulai terkikis secara meyakinkan dalam
kehidupan banyak orang.

Di kota-kota besar di mana kepintaran, kecerdikan dan keahlian dipuja-
puja sebagai mesin uang yang meyakinkan, kealamian bahkan diberi
stempel menyedihkan : lugu dan bodoh. Maka bisa dimaklumi, kalau kota
besar disamping memproduksi banyak uang, ia juga memproduksi
keterikatan-keterikatan yang membuat manusia terasing. Coba lihat
anak-anak yang terkena narkoba, angka perceraian yang meningkat
tajam, perampokan yang mengerikan, atau penyakit korupsi yang tidak
sembuh-sembuh. Bukankah terjadi kebanyakan di kota-kota di mana
kealamian diidentikkan dengan keluguan dan kebodohan ?

Mungkin saja saya bias, atau mungkin saja Anda menyebut saya lugu dan
bodoh, namun kealamian di manapun adalah sahabat kejernihan,
kejujuran dan bahkan kebijakan. Dan berbeda dengan pendidikan serta
pengalaman, yang mengenal wacana sebagai kendaraan kemajuan.
Kealamian malah berjalan sebaliknya, ia sering kali tersembunyi rapi
dalam silence. Makanya, saya masih ingat sekali apa yang pernah
dituturkan seorang sahabat dengan kehidupan meditatif yang
mengagumkan : naturalness is found in silence.

Belajar dari sini, ada baiknya kalau kita kembali merenungkan sifat-
sifat alami mind kita. Tidak untuk dinilai, apa lagi untuk dihakimi.
Sebagaimana awan, kita hanya memerlukan satu kegiatan : diam. Apa
lagi diam yang dibimbing oleh keikhlasan, bukan tidak mungkin
kejernihan menjadi sahabat karibnya sang hidup.

Oleh: Gede Prama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger