Jumat, Agustus 6

Diam Itu - Tidak Selamanya - Emas


“Orang yang diam terhadap suatu kemungkaran ibarat setan yang bisu” (Abu Ali bin Daqqaq). Diam ternyata tidak selamanya bernilai emas atau baik. ketika kita diam terhadap suatu kemungkaran, misalnya, maka itu akan sama halnya dengan tidak baik. Bahkan, Rasulullah SAW menyamakan diam tersebut dengan ikut membiarkan suatu keburukan terjadi. Bahkan pada diam ketika mampu untuk mencegahnya, bisa sama dengan telah ikut melakukan keburukan tersebut.

Makanya sangatlah wajar kalau Abu Ali bin Daqqaq mengibaratkan orang yang diam dalam keadaan demikian itu dengan setan. Memang kadangkala, kita tidak mampu memahami diri, apakah sedang diam terhadap kemungkaran atau sedang melakukan sesuatu untuk mencegahnya. Hal ini terjadi karena bisa jadi kemungkaran itu sedang dilakukan oleh orang-orang tertentu seperti oleh kerabat, orang-orang yang disegani atau mungkin oleh diri sendiri. Dalam posisi demikian, sebahagian kita amat sulit untuk tegas, sehingga terjadilah yang namanya ketidakadilan. Ketidakadilan yang dimaksud adalah, kita baru mampu melihatnya sebagai suatu kemungkaran manakala dilakukan oleh orang lain, terutama oleh orang-orang yang berseberangan pendapat dengan kita.

Padahal Allah menganjurkan kita untuk selalu menegakkan keadilan, tak terkecuali untuk diri sendiri. Berkenaan dengan hal ini, Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap diri kalian sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabat kalian. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kalian memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kalian kerjaan” (QS an-Nisaa`: 135)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger