Kamis, April 22

Tafsir Sufi Kisah Musa Dan Khidir

Sesungguhnya, khidir as bukanlah sosok lain yang terpisah sama sekali dari keberadaan manusia rohani.Apa yang di saksikan sebagai tanah menjorok dengan lautan di sebelah kanan dan kiri itu bukanlah suatu tempat yang berada di luar diri manusia.tanah itulah yang di sebut barzakh.dua lautan itu adalah lautan makna (bahr al ma"na),perlambang tidak kasat mata (alam gahaib),dan lautan jisim(bahr al jisim),perlambang alam kasatmata (alam asy syahadat)"". Sedangakan kawanan udang adalah perlambang para pencari kebenaran yang sudah berenang diperbatasan alam kasatmata dan alam tidak kasatmata .

kawanan udang perlambang para penemmpuh jalan rohani (salik) yang benar-benar bertujuan mencari kebenaran . sementara itu kawanan udang yang berenang dilautan sebelah kiri, di antara batu-batu , merupakan perlambang para salik yang penuh di liputi hasrat-hasrat dan pamarih duniawi.""Sesungguhnya peristiwa yang di alami nabi musa as dengan khidir as,sebagaimana termaktub dalam alquran karim. bukanlah hanya peristiwa sejarah seorang manusia bertemu manusia lain .ia adalah peristiwa perjalanan rohani yang berlangsung di dalam nabi musa as sendiri.

sebagaimana yang telah kami jelaskan, yang di sebut lautan dalam alqur"an tak laen adalah tidak bukan adalah lautan makna(bahr al makna) dan lautan jisim (bahr al jisim). kedua lautan tersebut tepisahkan oleh wilyah perbatasan atau sekat (barzakh).""Ikan dan lautan dalam kisah qur’ani itu merupakan perlambang dunia kasatmata (alam asy syahadat)yang berbeda dengan wilayah perbatasan yang berdampingan dengan dunia ghaib(‘alam al ghaib).maksudnya. Jika saat itu nabi musa as melihat ikan dan kehidupan yang melingkupi ikan tersebut dari tempatnya berdiri, yaitu wilayah perbatasan antara dua lautan, maka nabi musa akan melihat sang ikan berenang di dalamnya ,yaitu lautan. jika saat itu nabi musa as mencermati maka ia akan dapat menyaksikan bahwa sang ikan yang berenang itu sesungguhnya dapat melihat segala sesuatu di dalam lautan,kecuali air .

Maknanya sang ikan hidup di dalam air dan sekaligus di dalam tubuh ikan ada air, tetapi ia tidak bisa melihat air dan tidak sadar jika dirinyahidup didalam air itu sebabnya, ikan tidak dapat hidup tanpa air yang meliputi bagian luar dan bagian dalam tubuhnya. Dimanapun ikan berada ,ia akan selalu di liputi air yang tak bisa di lihatnya."Sementaraitu seandainya sang ikan didalam lautan melihat nabi musa as dari tempat hidupnya di dalam air lautan maka sang ikan akan berkata bahwa musa as di dalam dunia yang di liputi udara kosong yang dapat menyaksikan segala sesuatu,kecuali udara kosong yang meliputinya itu.maknanya nabi musa as hidup di dalam liputan udara kosong yang ada di luar maupun di dalam tubuhnya, tetapi ia tidak dapat melihat udara kosong dan tidak sadar jika dirinya hidup di dalam udara kosong. itu sebabnya nabi musa as tidak dapat hidup tanpa udara kosong yang meliputi bagian luar dan dalam tubuhnya. di manapun nabi musa as berada, ia akan selalu diliputi udara kosong yang tak bisa dilihatnya."Sesungguhnya tempat di mana nabi musa as berdiri di hadapan khidir as adalah wilayah perbatasan antara alam kasat mata dan tidak kasatmata. dan sesungguhnya kawanan dari udang adalah perlambangan dari salik yang sudah berada di perbatasan (barzakh) itu. jika ini terjadi sesungguhnya ia telah memasuki alam ghaib.

""Sesungguhnya pemuda (al fata) yang mendampingi nabi musa as dan membawakan bekal makanan adalah perlambang dari terbukanya pintu alam tidak kasatmata .sesungguhnya dibalik keberadaan pemuda (al-fata) itu tersembunyi hakikat sang pembuka (al-fattah). Sebab hijab ghaib yang menyelubungi manusia dari kebenaran sejati tidak akan bisa di buka tanpa kehendak dia pemilik pembuka itu sendiri (al-fattah). Itu sebabnya saat nabi musa as bertemu dengan khiidir as,

pemuda (al-fata) itu tidak di sebut-sebut lagi karena ia sejatinya merupakan perlambang terbukanya hijab itu.Adapun bekal makanan berupa ikan adalah perlambang pahala perbuatan baik yang hanya berguna untuk bekal menuju taman surgawi (al jannah). Namukn bagi pencari kebenaran sejati ,pahala perbuatan baik itu justru mempertebal gumpalan kabut penutup hati(ghain) . Itu sebabnya, sang pemuda mengaku dibuat lupa oleh setan hingga ikan bekalnya masuk kedalam lautan.' Andaikata sat itu nabi musa as memerintahkan si pemuda untuk mencari bekal yang lain. apalagi sampai memburu bekal ikan yang telah masuk kedalam laut, niscaya nabi musa as dan si pemuda tentu akan masuk ke lautan jisim (bahr al ajsam)kembali. Dan jika iiitu terjadi maka setan berhasil memperdaya nabi musa as.Ternyata nabi musa as tidak perduli dengan bekal itu. Ia justru menyatakan bahwa tempat di mana ikan itu meloncat ke lautan adalah tempat yang di carinya sehingga tersingkaplah gumpalan kabut ghain dari kesadaran nabi musa as . Saat itulah purnama rohani zawa’id berkilau dan nabi musa as dapat melihat khidir as ,hamba yang di limpahi rahmat dan kasih sayang (rahmah al khashshah) yang memancar dari dari citra ar-rahman dan ar-rahim dan ilmu illahi(ilm laduni) yang memancar dari sang pengetahuan (al-alim)”


Anugrah illahi di limpahkan kepada khidir as karena dia merupakan hambanya yang telah mereguk air kehidupan (ma’al hayat ) yang memancar dari sang hidup (al hayy). Itu sebabnya , diantara manusia yang sudah bertemu khidir as di tengah wilayah perbatasan antara dua lautan ,sesungguhnya manusia itu telah menyaksikan pengejawantahan sang hidup (al hayy), sang pengetahuan (al alim), sang pengasih (ar rahman), dan sang penyayang (ar rahim). Dan sesungguhmya khidir as itu tidak laen adalah ar roh idhafi, cahaya hijau terang yang tersembun-
yi di dalam diri manusia, ‘’sang penuntun ‘’ anak keturunan adam as kejalan kebenaran sejati . Dialah penunjuk dan mursyid sejati kejalan kebenaran (Al haqq) . Dia sang mursyid adalah pengejawantahan yang maha menunjuki (ar Rasyid)’
Demikianlah,saat sang salik melihat khidir as sesungguhnya ia telah menyaksikan ar roh idhafi , mursyid sejati di dalam diri manusia . Saat ia meyaksikan kawanan udang di lautan sebelah kan-
an, sesungguhnya ia telah menyaksikan lautan makna (bahr al ma’na). Yang merupakan hamparan permukaan lauatan wujud (bahr al wujud).. Namkun jika terputus penglihatan batin (bashirah)itu pada titik ini. Berarti perjalanan manusia menuju kebenaran sejati masih akan berlanjut...

Sesungguhnya perjalanan rohani menuju kebenaran sejati penuh diliputi tanda kebesaran illahi yang hanya bisa diungkapkan dalam bahasa perlambang. Sesungguhnya masing –masing manusia akan mengalami pengalaman rohani yang berbeda sesuai pemahamannya dalam menangkap kebenaran demi kebenaran . Yang jelas, pengalaman yang akan manusia alami tidak selalu mirip dengan pengala-
man yang di alami nabi musa as.’

Setelah berada di wilayah perbatasan, khidir as dan nabi musa as di gambarkan melanjutkan perjalanan memasuki lauatan makna (bahr al ma’na) , yaitu alam tidak kasatamata . Mereka kemudian di gambarkan menumpang perahu . Sesungguhnya perahu yang di gunakan untuk menyebrang itu adalah perlambang dari wahana syari’ah yang lazimnya digunakan oleh kalangan awam untuk mencari ikan, yakni perlambang perbuatan baik (al ‘amal ash shalih). Padahal perjalanan mengarungi lautan makna ( bahr al ma’na) menuju kebenaran sejati adalah perjalanan yang sangat pribadi menuju lautan wujud( bahr al wujud). Itu sebabnya, perahu syari’ah itu harus dilubangi agar air dari lautan makna (bahr al –
ma’na) masuk kedalam perahu dan penumpang perahu mengenal hakikat air yang mengalir dari lubang tersebut.

Setelah penumpang perahu mengenal air yang mengalir dari lubang maka ia akan menjadi sadar bahwa lewaat lubang itulah sesungguhnya ia akan masuk ke dalam lautan makna(bahr al ma’na) yang merupakan permukaan lautan wujud (bahr al wujud). Andaikata perahu itu tidak di lubangi, itu tidak di lubangi, dan perahu trs berlayar maka perahu itu tentu akan di rampas oleh sang maharaja (malik al mulki) sehingga penumpangnya akan menjadi tawanan. Jika sudah demikian maka untuk selamanya sang penumpang perahu tidak akan bisa melanjutkan perjalanannya menuju dia, yang maha ada (al wujud), yang bersemayam di segenap penjuru lautan wujud (bahr al wujud) .penumpang perahu akan mengalami nasib yang sama dengan penumpang perahu yang lain, yakni akan di jadikan hamba sahaya oleh sang maha raja. Bahkan, jika sang maha raja menyukai hamba sahayanya itu. Maka ia akan di angkat sebagai penghuni taman (jannah) indah yang merupakan pengejawantahan yang maha indah (al jamal).

Adapun atas pertanyaan kenapa wahana syari’ah harus di lubangi dan tidak lagi di gunakan dalam perajalanan menembus alam ghaib menuju dia! Dapat di jelaskan sebagai berikut: “ sebab wahana syari’ah adalah kendaraan bagi manusia yang hidup di alam kasatmata untuk pedoman menuju ke taman surgawi (al jannah). Sedangkan alam tidak kasatmata adalah alam yang tidak jelas batas-batasnya. alam yang tidak bisa di nalar dengan akal manusia yang mengikat itu tidak bisa berijtihad untuk menetapkan hukum yang berlaku di alam ghaib. Itu sebabnya khidir as melarang nabi musa as bertanya sesuatu dengan akalnya dalam perjalanan tersebut. Dan , apa yang di saksikan nabi musa as terhadap perbuatan yang dilakukan khidir as benar-benar bertentangan dengan hukum suci(syari’at) dan akal sehat yang berlaku di dunia ini . Yakni melubangi perahu tanpa alasan ,membunuh anak anak kecil tak bersalah dan membangunkan tembok yang runtuh tanpa upah...

Namun jika wahana syari’ah tidak bisa lagi di jadikan petunjuk ,sebenarnya pedomanya sama ,yaitu kitabullah dan sunah rasul. Tetapi pemahamanya bukan dengan akal melainkan dengan dzauq, yaitu cita rasa rohani . Inilah yang di sebut dengan cara thariqoh. Disini sang salik selain harus berjuang keras juga harus pasrah kepada kehendaknya . Sebab telah termaktub dalam dalil araftu rabbi bi rabbi bahwa kita hanya mengenal dia dengan dia maksudnya .jika tuhan tidak berkehendak kita mengenalnya maka kitapun tidak bisa mengenalnya dan kita mengenalnyapun melalui dia . Itu sebabnya di alam tidak kasatamata yang tak jelas batas dan tanda-tandanya itu kita tidak dapat berbuat sesuatu selain pasrah seutuhnya dan mengharap limpahan rahmat dan hidayahnya..

Tentang makna di balik kisah khidir as membunuh seorang anak (ghulam)dapat saya jelaskan sbb: Anak (ghulam) adalah perlambang keakuan yang kerdil yang kekanak-kanakan .kedewasaan rohani seseorang yang teguh imannya bisa terseret cinta kepada keakuan kerdil yang kekanak-kanakan tersebut. Itu sebabnya ,keakuan kerdil yang kekanak-kanakan itu harus di bunuh agar kedewasaan rohani tidak terganggu.
Sesungguhnya di dalam perjalanan rohani menuju kebenaran sejati selalu terjadi keadaan di mana keakuan kerdil yang kekanak-kanakan(ghulam) dari sang salik cenderung mengingkari kehambaan dirinya terhadap cahaya yang terpuji (nur muhammad) sebagai akibat ia belum fana’ke dalam sang rasul(fana fi rasul).ghulam cenderung durhaka dan ingkar terhadap kehambaan kepada sang rasul. Jika keakuan kerdil yang keakuan dan kekanak-kanakan itu di bunuh akan lahir ghulam yang lebih baik dan lebih berbakti yang melihat dengan mata batin (bashirah) bahwa dia sesungguhnya hamba dari sang rasul pengejawentahan dari cahaya yang terpuji (nur muhammad)..

Sesungguhnya keakuan kerdil yang kekanak-kanakan adalah peralambang dari keberadaan hawa nafsu manusia yang cenderung durhaka dan ingkar terhadap sumbernya. Sedangkan ghulam yang baik dan berbakti adalah perlambang dari keberadaan roh manusia yang cenderung setia dan berbakti kepada sumbernnya
Dan sesungguhnya ,perbuatan khidir as membunuh ghulam itu adalah perlambang yang sama saat nabi ibrahim as akan menyembelih nabi ismail as ‘pembunuhan’ itu adalah perlambang dari keimanan mereeka yang beriman (mu’min)...

Adapun dinding yang di tegakkan khidir as . Adalah perlambang dari sekat tertinggi (al barzakh al ‘a’ala) yang di sebut dengan hijab yang maha pemurah (hijab ar rahman). Dinding itu adalah pengejawantahan yang maha luhur (al jalil ). Lantaran itu, dinding itu di namakan dining al jalal (al jidar al jalal), yang di bawahnya tersimpan perbendaharaan (tahta al kanz) yang ingin di ketahui..

Sedangkan dua anak yatim(ghulamaini dan yatimaini) pewaris diding itu adalah perlambang jati diri nabi musa as, yang keberadaanya terbentuk atas jasad ragawi (albasyar) dan rohani (roh). Keadaan jati diri manusia itu baru tersingkap jika seseorang sudah berada dalam keadaan tidak memiliki apa-apa (muflis),terkucil sendiri (mufrad), dan telah berada di dalam waktu tak berwaktu (ibn al waqt). Dua anak yatim itu adalah perlambang gambaran nabi musa as dan bayangan di depan cermin memalukan (almir;ah al haya’i).

Adapun gambaran ayah yang salih dari kedua anak yatim . Yakni ayah yang mewariskan khazanah perbendaharaan
(tahta al kanz), adalah perlambang darai abu shalih sang pembuka hikmah (al hikmah al futuhiyah),yakni pengejawantahan dari sang pembuka (al fattah) . Dengan demikian ,apa yang telah di alami nabi musa as dalam perjalanan bersama khidir as ( Qs .al kahfi:60-82), menurut penafsiran ,adalah perjalanan rohani nabi musa as ke dalam diri sendiri yang penuh dengan perlambang (isyarat)...


Mengenai dua anak yatim dalam kisah qur’ani ini yang di tafsirkan sama dengan nabi musa as, yaitu nabis musa as dengan bayanganya di depan cermin memalukan, bukanlah berarti bahwa jasad ragawi dan rohani nabi musa as lahir dari sumber yang berlainan..

Memang nabi musa as lahir hanya satu. Namun keberadaan jati dirinya sesungguhnya adalah dua, yang pertama yaitu: keberadaan sebagai al basyar anak adam as yang berasal dari anasir tanah yang diciptakan dan keberadaanya sebagai ‘ roh ‘ anak cahaya yang terpuji (nur muhammad) yang berasal dari tiupan (nafakhtu) cahaya di atas cahaya (nurun ‘ala nurin). Maksudnya sebagai al basyar, keberadaan jasad ragawi nabi musa as berasal dari yang mencipta (al khaliq).

Sehingga tidak akan pernah terjadi perseteruan dalam memperebutkan khazanah perbendaharaan warisan ayahnya yang shalih. Sebab saat keduanya berdiri berhadap-hadapan di depan dinding al jalal(al jidar al jalal) dan mendapati dinding itu runtuh maka saat itu yang ada hanya satu anak yatim. Maksudnya, saat itu keberadaan al basyar anak ada as akan terserap ke dalam roh anak nur muhammad. Saat itulah sang anak sadar bahwa ia sejatinya berasal dari cahaya di atas cahaya (nurun ‘ala nurin) yang merupakan pancaran dai khazanah perbendaharaan.

Sesungguhnya hal semacam itu tidak bisa diuraikan dengan kaidah-kaidah nalar manusia karena akan membawa kesesatan. Jadi harus di jalani dan dialami sendiri sebagai sebuah pengalaman perjalanan rohani pribadi bukan dengan ungkapan ........................

Konsep Ashirat

Saya hanya akan memberi sebuah petunjuk untuk meniti jembatan (shirath) ajaib kearahnya atau jalantrabas. Saya katakan ajaib karena jembatan itu bisa menjauhkan sekaligus mendekatkan jarak mereka yang meniti dengan tujuan yang hendak di capai.

Sebagaimana kisah nabi musa as dalam perjalanan mencari khidir as, jembatan itu memiliki empat bagian matra yang masing-masing memiliki pintu
pertama: matra istighfar yang perlambang nabi musa as bersama pemuda (al fata) menjumpai khidir as di perbatasan antara dua lautan. kedua : matra salawat yang berisi perlambang khidir as melubangi perahu. ketiga: matra dalil yang berisi perlambang khidir as membunuh anak. Keempat: matra nafs al haqq yangberisi perlambang khidir as menegakkan dinding yang dibawahnya berisi perbendaharaan tersembunyi.

Bagi kalangan yang tidak tahu, istighfar lazimnya di pahami sebagai upaya permohonan meminta ampun kepada al ghaffar sehingga mereka beroleh ampunan (maghfirah). Tetapi bagi para salik, istighfar adalah upaya memohon pembebasan dari belenggu kekakuan kepada al ghaffar sehingga beroleh maghfirah yang menyingkap tabir ghain yang menyelubungi manusia. Sesungguhnya di dalam asma’ al ghaffar terangkum makna maha pengampun dan juga makna maha menutupi,maha menyembunyikan dan maha menyelubungi...

Sesungguhnya perjalanan manusia ketika sudah mengalami kasyf al hijab ia telah sampai ke bagian jembatan yang di sebut matra salawat. tabir ghain yang menyelubungi keakuannya telah menyingsing. Ia telah menyaksikan khidir as namun,karena terperangkap pada keinginan untuk beroleh karunianya semata (karamah dari kewalian), maka ia hanya berputar-putar di matra istighfar yang penuh diliputi gambaran-gambaran indah karunianya.
Cara melepaskan hal itu, agar ia sampai pada matra salawat adalah dengan melubangi perahu seperti yang dilakukan khidir as hal ini harus dilakukan. Tanpa melubangi perahu, sang salik tidak akan mengetahui hakikat sejati lautan wujud(bahr al wujud ).tanpa melubangi perahu maka kedudukan sang salik tiddak jauh berbeda dengan kedudukan para nelayan , memanfaatkan perahu untuk mencari ikan (pahala) dan berbagai karunianya yang terhampar di permukaan lautan wujud , yang selain bergelombang dahsat juga berisiko di hadang sang rajadiraja (al malik al mulki) yang setiap saat akan merampas perahu-perahu itu yang berlayar...

Di matra salawat ini sang salik harus menyadari kehambaanya kepada yang maha terpuji (ahmad) sebagai sumber segala kejadian . Di matra itu sang salik harus menjadi gulam yang baik dan berbakti kepada sumbernya, yakni pancaran air kehidupan yang mengalir dari lubang perahu yang di buat khidiar as. Ghulam yang durhaka dan mengingkari kehambaannya kepada yang terpuji harus di bunuh. Sang salik yang tenggelam ke dalam matra salawat ini di sebut fana ke dalam Rasulallah(fana’ fi rasul).

Air kehidupan yang memancar dari lubang itu sesungguhnya sama hakekatnya dengan air kehidupan yang tergelar di hamparan lautan wujud.walau demikian, tanpa melalui air kehidupan yang mengalir dari lubang maka salik tidak akan mencapai air kehhidupan yang tergelar dlautan wujud.....


Matra tahlil adalah matra ke-esa-an wujud, lautan wujud sama hakekatnya dengan air kehidupan. Ibarat ungkapan kesaksian tidak ada ilah selain allah( la ilaha illa Allah), demikianlah di matra tahlil ini terungkap kesaksian tidak air lain yang tergelar di hamparan lautan wujud kecuali air kehidupan (ma’ al-hayy) yang mengalir dari sang hidup(al-hayy). Inilah matra yang diibaratkan dalam perlambangkan dinding yang di tegakkan khidir as yang di bawahnya tersembunyi perbendaharaan...

Matra nafs al-haqq adalah matra rahasia yang tidak bisa diuraikan.sebab, matra ini menyangkut perbendaharaan tersembunyi yang terdapat di bawah dinding. Tak ada satupun di antara makhluk yang mengetahui keberadaanya, kecuali memang dikehendakinya. Jika alqur’an saja tidak memberikan penjelasan tentang apa sesungguhnya perbendaharaan, tentunya manusia tidak bisa menghayal-hayal perbendaharaan itu sesukanya. Hanya saja , memang hanya orang yang di beri kemampuan khusus saja oleh tuhan.

Gambaran nabi musa as yang berpisah dengan khidir as di matra itu adalah kearifan dari sang pencerita untuk tidak mengungkapkan apa yang tidak dapat di pahami pembaca /pendengarnya.dari guru besar kami ,bentuk lafadz istighfar ,shalawaat,tasbih,tahlil dan semacamnya sebenarnya lafadz-lafadz yang menuntut manusia untuk menempuh jalan bertemu tuhanya. Sehingga kalimat-kalimat tersebut tidaklah cukup hanya dijadikan ucapan penghias bibir belaka.kalimat-kalimat tersebut hakekatnya adalah urat nadi perjalanan rohani manusia , yang menyelami atasnya dapat membawa ke samudra ma’rifat untuk mengenal dan mendekatinya. Dan kemudian menghampirinya untuk bersatu dalam keabadian. Sehingga matra-matra dari kalimat itu akan tetap terbawa dalam kesadaran kematian. Saat nyawa kehidupan lepas dari tubuh, kesadaranya tetap mengiringinnya dengan senyum menuju haribaan-nya atawa pindah alam saja hehehehehe.....

wassalam wahyoe kalijaga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger